Grup Metal Voice of Baceprot saat siaran langusung di acara Podcast Kepoin KDEI Taipei (Dok. Youtube)
Indosuara – Trio band metal asal Indonesai Voice of Baceprot menyebut diskriminasi dalam beribadah yang dialami beberapa pekerja migran Indonesia adalah perilaku yang tidak bisa dibenarkan.
Hal itu diungkapkan salah satu personil Voice of Baceprot Marysa saat diwawancara KDEI Taipei di siaran langusng Podcast Kepoin KDEI Taipei pada Rabu malam (10/20/2022).
“Menurut kami sih arti penting kemerdekaan adalah kita bebas menggunakan apa yang kita nyaman, terlepas dari berhijab atau tidak. Apa pun dalihnya jika bentuknya diskriminasi itu adalah racun yang mencederai kemanusiaan,” kata Marsya.
Voice of Baceprot menilai, apa pun alasannya jika pemberi kerja memaksa para pekerja migran untuk melepas dan membatasi ibadah hal itu tidak bisa dibenarkan.
Mereka pun memberikan dukungan moral kepada para pekerja migran yang tengah mengalami kesulitan dalam beribadah.
“Untuk yang sekarang sedang mengalami diskriminasi seperti itu, tetap semangat, yakinlah kalian tidak pernah sendiri,” kata dia.
Merespons masalah pemaksaan penggunaan dan pelepasan hijab, Voice of Baceprot membuat sebuah karya yang berjudul “Not Public Property”.
Lagu ini dibuat atas pengalaman pribadi mereka dan situasi masyarakat yang senang mengontrol pakaian orang lain.
Mereka mengenang, pada awal karier Voice of Baceprot, ada pihak yang meneror mereka meminta para personil untuk melepas hijab mereka karena dirasa tidak pantas Muslimah bermain musik rock.
“Mereka menyebutnya mengingatkan, tetapi mengingatkan dengan kekerasan juga tidak benar,” kata Marsya.
Dalam tayangan siaran langsung yang berlangsung hampir satu jam ini, tiga personel VoB banyak menceritakan perjalanan mereka sejak mulai merintis hingga merambah ke sejumlah festival kelas dunia.
Siti, bassist VoB misalnya, didapuk oleh dua rekan bandnya untuk menceritakan penamaan VoB. Menurut Siti, nama ini memang menarik perhatian orang. Terutama sematan kata "Baceprot" yang mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Siti pun menceritakan kalau kata "Baceprot" ini diambil dari bahasa Sunda, bahasa lokal yang mereka gunakan sehari-hari, yang punya arti bawel.
Secara keseluruhan, sambung Siti, VoB dimaknai sebagai suara yang berisik. "Berisik untuk hal yang baik tentunya," kata Siti.
VoB sengaja memilih jalur metal sebagai genre bermusiknya karena lewat musik inilah mereka mempelajari instrumen. Marsya, Widi, dan Siti yang dipertemukan di sekolah, dididik oleh salah satu guru mereka hingga kemudian mantap menjadi sebuah band pengusung metal.
Di awal kemunculannya, VoB memang langsung menarik perhatian dengan konsep band minimalis, namun memainkan musik yang rumit seperti metal. Mereka kerap tampil membawakan lagu-lagu daur ulang dari sejumlah musisi metal kenamaan seperti Metallica atau rap-core seperti Rage Against The Machine.
"Di antaranya ya senang dengerin band metal seperti Lamb of God," ucap Marsya.
Berkat kepiawaian para personelnya memainkan musik metal, ditambah dengan penampilan yang tak biasa, mengingat mereka tetap lekat dengan identitas hijabnya, membuat sorotan pada VoB makin luar biasa. Sorotan ini tidak hanya didapat dari dalam negeri tetapi juga luar negeri. Sejumlah media internasional seperti The New York Times, NPR, The Guardian, dan lain-lain mengangkat kisah tentang trio yang baru saja mendapatkan penghargaan AMI untuk nominasi The Best Collaboration Grup atau Duo.
Tak butuh waktu lama, nama VoB pun makin melejit. Sejumlah undangan dari luar negeri pun berdatangan. Mereka bahkan sudah menghelat sebuah tur ke Eropa. Tak main-main, di salah satu titik tur Eropa, yakni di Rennes, Prancis pada Desember 2021, mereka ditonton oleh lebih dari 3000 penonton.
VoB pun berharap ke depan mereka bisa menjelajahi lebih banyak festival musik dunia dan mengharumkan nama Indonesia.
Voice of Baceprot datang ke Taiwan untuk mengguncang panggung Pasiwali Festival di Taitung, Taiwan 23 Oktober 2022.





