Indosuara - Puluhan pekerja migran mengenakan kostum hantu saat unjuk rasa di sekitar Stasiun Utama Taipei pada hari Minggu untuk meminta pemerintah mengakhiri sistem agensi tenaga kerja.
“No treat, only trick” (Tidak ada hadiah, hanya tipuan) adalah slogan utama yang diteriakkan oleh para pekerja migran dan anggota kelompok buruh pada demonstrasi tersebut yang melakukan unjuk rasa dengan tema Halloween
Di dalam unjuk rasa itu para agensi atau calo ditampilkan sebagai sosok penghisap darah.
Sistem calo disahkan pada tahun 1992 untuk memperkenalkan pekerja luar negeri pada peluang kerja di Taiwan dan kemudian mengelola pekerja dan membantu mereka memproses dokumen yang diperlukan selama berada di Taiwan.
Namun menurut Gracie Liu (李晓英) dari Pusat Layanan Pekerja Migran Keuskupan Hsinchu, para calo telah menyalahgunakan sistem tersebut sejak saat itu, termasuk dengan secara ilegal mengenakan biaya sebesar 20.000-90.000 NTD untuk berganti pekerjaan setelah kontrak tiga tahun pertama mereka habis.
Kegagalan membayar, kata Liu, berarti tidak mendapatkan pekerjaan karena para pialang akan membekukan mereka dari peluang-peluang baru.
Meskipun ada Stasiun Layanan Ketenagakerjaan yang dikelola pemerintah yang seharusnya membantu pekerja migran yang ingin berganti pekerjaan untuk mendapatkan pekerjaan baru, Liu mengatakan hal tersebut tidak membantu dan bahkan dapat menghambat peluang pekerja untuk berganti pekerjaan.
Dia menyatakan bahwa para migran dipilih secara acak untuk mengambil bagian dalam wawancara dengan majikan pada hari Kamis, namun sesi tersebut ternyata dilakukan dengan orang-orang yang hanya memeriksa pekerjaan yang tersedia di komputer mereka dan hanya berbicara bahasa Inggris dasar, sehingga menjadikan wawancara tersebut tidak efektif.
Parahnya lagi, kata Liu, jika para migran yang diminta hadir tidak hadir, mereka dianggap kehilangan kesempatan berganti pekerjaan dan bisa dideportasi.
Paul Su (苏宇国), seorang pejabat di Badan Pengembangan Tenaga Kerja di bawah Kementerian Tenaga Kerja, mengatakan kepada CNA bahwa majikan dapat memilih untuk mempekerjakan pekerja migran secara langsung atau melalui perantara.
Dia juga mengatakan lebih banyak penerjemah yang bekerja di Stasiun Layanan Ketenagakerjaan, dan penerjemah empat bahasa bekerja di kantor layanan ketenagakerjaan di Changhua dan Taichung untuk membantu pekerja migran mendapatkan pekerjaan di majikan.
Taiwan juga sedang bernegosiasi dengan beberapa negara, termasuk Indonesia, mengenai perluasan cakupan program perekrutan langsung bagi pekerja pemula, kata Su.
Sedangkan bagi calo yang kedapatan membebankan biaya berlebihan kepada pekerja migran, Su mengatakan mereka akan dikenakan denda 10-20 kali lipat dari biaya ilegal tersebut.





