Foto: Taiwan News
Indosuara -- Setelah sebelumnya pemerintah merencanakan penambahan kuota pekerja migran untuk sektor pertanian, kini pemerintah sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan kerabat pekerja migran atau imigran permanen baru untuk bekerja secara legal di Taiwan secara sementara. Skema baru yang digambarkan Menteri Tenaga Kerja ini serupa dengan program liburan kerja (working holiday program).
Menteri Hsu Ming-chun (許銘春) mengatakan pada hari Jumat (7 April) bahwa Taiwan menghadapi kekurangan hingga 12.000 pekerja pertanian, seperti disampaikan oleh media CNA. Dia menyarankan hal ini dapat diselesaikan dengan menandatangani perjanjian bilateral dengan negara-negara tertentu yang akan memungkinkan kerabat pekerja migran jangka panjang melakukan perjalanan ke Taiwan untuk bekerja antara tiga dan enam bulan.
Legislator Frida Tsai (蔡培慧) mengatakan bahwa kekurangan pekerja pertanian adalah yang paling serius di Nantou, dan karena pekerjaan pertanian Taiwan bersifat musiman, memberikan visa kerja terbatas untuk tanggungan pekerja migran jangka panjang bisa menjadi solusi. Hsu mengatakan, ide tersebut telah didiskusikan dengan Dewan Pertanian, dan keduanya bersedia bekerja sama untuk melakukan masa percobaan implementasi.
Hampir 15.000 pekerja migran Vietnam memasuki Taiwan dalam dua bulan pertama tahun 2023, saat Taiwan membuka kembali perbatasannya pasca-COVID.
Namun, meskipun secara konsisten mendapat peringkat sebagai salah satu tujuan terbaik di dunia untuk "ekspatriat", masalah diskriminasi dan kondisi kerja yang buruk bagi pekerja migran di Taiwan terus berlanjut.





