Foto diambil dari : LTN News
Kasus yang dikonfirmasi di Kota Keelung, seorang wanita mengalami demam pada tanggal 22 April 2022. Setelah dikirim ke rumah sakit, dia dikirim kembali ke rumah untuk observasi mandiri dan hanya disuruh menunggu demamnya reda. Dia meninggal di rumah pada pagi hari tanggal 24 April 2022 bahkan tanpa konfirmasi nomor kasus Covid-19. Anggota keluarga sangat sedih dan marah.
Pria bermarga Zeng mengatakan Chen mulai tidak enak badan pada tanggal 20 April 2022. Putrinya tidak dapat membeli alat antigen di apotek. Biro Kesehatan juga tidak dapat ditelfon saat itu.
Chen terus demam di rumah. Dia menelepon 119 untuk meminta bantuan pada tanggal 21 April 2022 jam 17.00. Ambulans tiba, dan dia dikirim ke ruang gawat darurat. Setelah tes PCR, dia mendapat obat dan pulang, dia demam selama lebih dari 12 jam dan suhu tubuhnya mencapai 39,4 derajat Celcius. Akhirnya, dia menelepon saluran khusus 1922 dan menghubungi Biro Kesehatan Kota Keelung atas namanya. Zeng bertanya kepada rumah sakit tentang kondisi Tes PCR Chen untuk konfirmasi dan hasil tes Chen menunjukkan positif.
Zeng menunjukkan bahwa kondisi Chen semakin buruk, dan dia menelepon 119 untuk meminta bantuan lagi, dan memberi tahu bahwa dirinya terinfeksi virus Covid-19. Biro kesehatan mengirim ambulans 119 untuk membawa Chen ke rumah sakit pada pukul 6:30 malam itu, tetapi Chen berkata bahwa dia menerima infus di rumah sakit, dan malam itu jam 11, demam sedikit mereda pada jam 3:00, dan setelah minum obat, Chen naik taksi pencegahan epidemi pulang ke rumahnya.
Ketika Zeng kembali ke rumah pada jam 5 sore pada tanggal 24 April 2022, dia menemukan Chen terbaring di tempat tidur tanpa nafas. Menurut sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh dokter kota, waktu kematian adalah pukul 8:00 pagi pada tanggal 24 April 2022, dan penyebab kematiannya adalah karena gagal napas.
Zeng mengatakan bahwa Chen didiagnosis selama 2 hari, dan keadaannya semakin memburuk dan dia tidak dirawat di rumah sakit. Dia ingin dirawat di rumah sakit untuk perawatan, tapi pihak rumah sakit tidak terima. Dia diminta pulang untuk observasi mandiri dan akhirnya meninggal di rumah. Dan setelah kematiannya, dia tidak bisa dikremasi dengan lancar karena tidak ada dokumen diagnosis resmi dalam proses administrasi.
Biro Kesehatan menyatakan bahwa setelah penelitian medis dan konsultasi dari Biro Kesehatan dan kota, sertifikat kematian diterbitkan kembali, yang menyatakan bahwa penyebab kematian adalah kegagalan pernapasan yang disebabkan oleh infeksi Covid-19.





