Foto diambil dari CNA.
Koalisi lembaga pemerintah Taiwan dan asing serta masyarakat Taiwan pada hari Jumat menyumbangkan pakaian baru dan menyelenggarakan pesta untuk nelayan migran di New Taipei untuk membantu mereka tetap hangat selama musim dingin, tetapi banyak yang masih menghadapi kondisi kerja yang tidak adil pada pekerjaan mereka.
Hampir 50 nelayan migran dari Indonesia, Vietnam, dan Filipina diberikan jaket musim dingin, syal wol, kaus kaki, selimut, dan masker wajah, sementara sekitar 40 migran lainnya tidak dapat menghadiri acara tersebut karena harus bekerja, hadiah mereka dititipkan pada teman-temannya.
Hendrikus Arianto Ukat, seorang pastor Indonesia dari Gereja Saint Christopher dan bagian dari Stella Maris, mengatakan kepada CNA bahwa acara di Dermaga Nelayan Tamsui itu unik karena diselenggarakan dengan upaya terpadu dari Gereja Katolik, Yayasan Buddha Tzu Chi, Badan Perikanan Taiwan dan KDEI.
“Pekerjaan merawat nelayan tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi bisa berhasil jika ada kelompok yang berbeda yang bersatu untuk membantu,” kata Ukat.
Ia mencontohkan para nelayan migran yang bekerja di kapal yang menangkap ikan di sepanjang perairan pesisir Taiwan menghadapi kondisi yang sulit karena mereka tidak hanya bekerja berjam-jam tanpa upah lembur, mereka bahkan tidak bisa beristirahat di tempat yang nyaman.
Majikan mereka mengharapkan mereka untuk tidur di kapal, bahkan di musim dingin, ketika cuaca sangat dingin, katanya.
"Tidur di kapal membuat mereka tidur dalam kondisi yang sangat sempit; situasi yang ideal adalah memberi mereka akomodasi di darat," desak Ukat.
Yayasan Tzu Chi Taiwan memasok barang-barang yang didistribusikan dan mengorganisir pertunjukan musik dan tari, dengan bantuan sukarelawan mahasiswa Vietnam dari Gereja Saint Christopher, untuk memberi kesempatan kepada para nelayan migran untuk merayakan liburan Natal yang akan datang.
Seorang relawan Yayasan Tzu Chi, yang ingin dikenal dengan nama Dharmanya Tzu Ching (慈婧), mengatakan bahwa yayasannya ingin menggunakan kesempatan itu untuk belajar tentang kehidupan para nelayan pendatang.
"Mereka datang dari luar negeri tapi kita semua hidup bersama di tanah ini, jadi kita harus berinteraksi," kata Tzu Ching.
Seorang migran Indonesia berusia 32 tahun, yang dipanggil Ah Long, mengatakan dia tinggal di kapal nelayan tempat dia bekerja dan sering merasa kedinginan di musim dingin.
Ah Long, yang telah bekerja di Taiwan selama satu dekade, mengatakan kondisi kerja untuk nelayan migran dapat ditingkatkan jika majikan mematuhi jam kerja harian yang layak sebagaimana diatur dalam undang-undang perburuhan Taiwan atau membayar upah lembur kepada nelayan migran.
Undang-undang perburuhan Taiwan saat ini berlaku untuk nelayan yang tinggal di pesisir, tetapi banyak majikan masih meminta migran untuk bekerja berjam-jam tanpa upah lembur.
Ah Long mengatakan jam kerja di kapalnya lebih lama dari kapal lain karena hari kerjanya dimulai pukul 5 pagi dan berakhir antara pukul 7 malam hingga 8 malam.

Pejabat Indonesia dari KDEI, yang juga berada di lokasi berbagi makanan dan doa dengan para nelayan, mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa acara tersebut menunjukkan bahwa banyak orang yang peduli dengan kesejahteraan para nelayan migran.
Kantor perwakilan Indonesia di Taiwan menyambut baik kerjasama dengan berbagai organisasi, seperti otoritas Taiwan, kelompok masyarakat, tokoh agama, dan pihak lain untuk meningkatkan kehidupan dan kondisi kerja para nelayan migran karena mereka berkontribusi pada industri perikanan lokal.
Menanggapi pertanyaan CNA mengenai upah lembur, Paul Su (苏裕国), seorang pejabat di Badan Pengembangan Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja, mengatakan meskipun pengawasan ketenagakerjaan terkadang dilakukan, nelayan migran perlu mengajukan pengaduan agar masalah yang mereka khawatirkan diselidiki.

Undang-undang saat ini menetapkan bahwa pekerja harus bekerja delapan jam sehari dan jika diperlukan, maksimum empat jam lembur diizinkan, dan para migran harus dibayar upah lembur, kata Su.
Su mengatakan, kesulitan menerima uang lembur memang menjadi salah satu masalah utama yang dihadapi para pekerja migran. Dia mendorong para nelayan untuk menelepon hotline pemerintah 1955 untuk mengusut kasus mereka.
Namun, banyak nelayan, seperti pekerja migran lainnya, dieksploitasi di bawah sistem yang memaksa mereka berutang kepada calo di dalam negeri dan di Taiwan untuk mendapatkan pekerjaan di sini dan mereka membutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk melunasi utang tersebut. kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membayar utang membuat banyak migran tidak mau melaporkan pelanggaran.






