Ilustrasi pekerja migran (Dok. Pixabay)
**Indosuara** - Sejumlah organisasi buruh migran yang ada di Taiwan Hong Kong, Malaysia, Singapura, hingga Indonesia, memperingati hari migran Internasional yang jatuh setiap tanggal 18 Desember secara daring. Pada kegiatan yang digelar Senin (19/12/2022), sejumlah perwakilan organisasi menyatakan pandangannya tentang perlunya bersolidaritas dan memaparkan kondisi pekerja migran di masing-masing negara.
Dari Taiwan, pekerja migran Indonesia diwakili oleh Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas-GANAS. Dalam pidatonya, Ketua GANAS, Fajar mengatakan hal yang saat ini masih menjadi momok bagi PMI di Taiwan adalah tingginya biaya penempatan. Menurutnya hal ini berlaku untuk semua sektor baik formal maupun informal. Tingginya biaya penempatan ini bisa mencapai hingga empat kali lipat dari standar yang disyaratkan pemerintah Indonesia.
"Taiwan bersama sejumlah pekerja sektor formal benar2 mengenaskan. Hingga saat ini biaya penempatan tak bisa teselesaikan," kata Fajar.
Menurut dia, banyak faktor yang membuat masalah klasik ini terus terjadi. Di antaranya sistem agensi yang mengikat dan terlalu memonopoli. Sehingga agensi bisa dengan mudah melakukan jual beli pekerjaan kepada para calon pekerja migran. Selain itu agensi juga hingga saat ini masih mengutip biaya pelayanan setiap bulan dari para pekerja.
Menurut Fajar, hal-hal ini tidak masuk akal karena tidak ada di aturan. Selain itu, dengan biaya pelayanan pun bukan berarti para pekerja migran akan dilayani saat mendapatkan masalah. Seringkali pihaknya menemukan kondisi di mana pekerja migran yang mendapat masalah malah bingung mencari bantuan.
"Pelanggaran tanggung jawab terus terjadi. Biaya pelayanan tiap bulan tapi ga ada tanggung jawab saat PMI tertimpa masalah," ucap dia.
Sementara perbedaan sektor informal dan formal juga menjadi masalah lain. Pekerja rumah tangga yang saat ini di Taiwan masih masuk ke kategori pekerja sektor informal belum mendapat hak yang setara sebagaimana pekerja sektor formal. Pekerja sektor ini tidak mendapat upah layak sebagaimana upah minimun pekerja formal di Taiwan.
"Ketika ada kenaikan pun hanya diberlakukan untuk yang kontrak baru. Ini permasalahan yang juga terus berulang," ucap Fajar.
Untuk itu dia meminta agar pemerintah Republik Indonesia sadar akan janjinya dan turun tangan membenahi masalah ini. "Jangan sekadar lips service," ucap dia.
Selain itu, di hari migran Internasional ini, Fajar juga meminta teman-teman pekerja agar ikut bersama membangun solidaritas dan jejaring. Menurut Fajar, solidaritas antar-sesama pekerja sangat penting sebagai kekuatan untuk mengubah kebijakan yang jauh dari adil.
"Dengan mengadakan peringatan hari migran bisa menjadi tolak ukur ke depan agar semangat membangun solidaritas," ucap GANAS.
Selain perwakilan dari GANAS, ada juga sejumlah kelompok lain yang memberikan suaranya seperti JBMI HK , JBMI Macau, IMWU Macau, Tenaganita Malaysia, Singapore, Beranda Perempuan, Mitra Wacana, dan lain-lain.





