Foto diambil dari Biro Kesehatan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Hsinchu (HCSHB).
Otoritas kesehatan Kabupaten Hsinchu sedang menyelidiki potensi wabah keracunan makanan yang terkait dengan konsumsi roti Prancis, yang menyebabkan 35 orang mencari perawatan medis, lima di antaranya dirawat di rumah sakit hingga Selasa (27 Agustus).
Biro Kesehatan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Hsinchu (HCSHB) menerima pemberitahuan dari Rumah Sakit Universitas Kedokteran Tiongkok Hsinchu (CMU-HCH) dan Rumah Sakit Umum Ton Yen mulai Sabtu (24 Agustus).
Seperti yang dilansir dari CNA, pasien mengeluhkan ketidaknyamanan perut, muntah, sakit perut, diare, dan demam, menurut CNA.
Investigasi awal menunjukkan roti Prancis yang dibeli dari sebuah kios di pasar Zhubei sebagai kemungkinan sumber penyakit. Petugas kesehatan telah memeriksa kios tersebut dan menemukan pelanggaran kebersihan, termasuk keberadaan hama, penyimpanan yang tidak tepat, dan kurangnya pelabelan.
Sampel makanan dan sampel pasien telah dikirim untuk pengujian, dengan hasil diharapkan dalam waktu dua minggu. Kios tersebut telah ditutup sementara.
Orang-orang yang terkena dampak mencari perawatan di berbagai rumah sakit, termasuk 12 di CMU-HCH dan 14 di Rumah Sakit Umum Ton Yen. Yang lainnya termasuk dua orang di Rumah Sakit Hsinchu MacKay Memorial, empat orang di Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH) Cabang Hsinchu, dan tiga orang yang mencari perawatan medis secara mandiri.
Direktur Jenderal HCSHB Yin Tung-cheng (殷東成) mengatakan pemeriksaan kios tersebut mengungkap enam pelanggaran kebersihan.
Operator telah diperintahkan untuk memperbaiki masalah ini dalam jangka waktu yang ditentukan. Kegagalan untuk mematuhi tindakan perbaikan dapat mengakibatkan denda sebesar NT$60.000 (US$1880) hingga NT$200 juta berdasarkan Undang-Undang yang Mengatur Keamanan dan Sanitasi Pangan.





