Foto: RTI
Indosuara — Universitas Feni Chia yang terletak di Taichung, Taiwan mengambil langkah progresif dengan membolehkan mahasiswanya mengambil cuti kesehatan mental. Aturan baru yang ditetapkan pada Juni 2023 ini diambil menimbang tingginya tingkat stres siswa di Taiwan.
Mengutip Radio Taiwan Internasional, setiap satu semester, siswa bisa mengambil cuti selama tiga hari dengan alasan kesehatan mental. Menanggapi ini, salah seorang psikiater di Taiwan merasa bahwa cuti kesehatan mental memiliki efek positif bagi perkembangan jiwa seorang pelajar. Apalagi menurut data statistik yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW), “bunuh diri” sudah menjadi penyebab kematian tertinggi kedua bagi golongan warga dengan usia 15 hingga 24 tahun.
Salah seorang psikiater dalam negeri, Yang Cong-cai (楊聰財) menyampaikan, efektivitas dari penerapan “Cuti Kesehatan Mental” harus diperhitungkan dengan mempertimbangkan ragam faktor, termasuk tingkat keparahan dan frekuensi terjadinya gangguan stres.
Frekuensi cuti yang diambil terlampau sering juga dicemaskan akan mendatangkan kecemasan bagi siswa bersangkutan, karena dapat meningkatkan kekhawatiran akan tertinggalnya materi pelajaran.
Di samping itu, masih ada faktor “stres akademik” dan “dampak sosial”, yang dapat menambah beban dari kesehatan mental seorang pelajar.
Untuk itu ia menilai selain cuti, pihak sekolah atau keluarga juga hendaknya menyediakan dukungan psikologis yang tepat. Dan perlu dipastikan kalau “Cuti Kesehatan Mental” tersebut tidak akan mengganggu para pelajar secara proporsional, baik dari segi akademisi maupun interaksi sosial dengan sesama. (Sumber Foto: 台視新聞網)





