Foto diambil dari CNA.
Ririn Arumsari, seorang pekerja migran perawat lansia telah memenangkan ajang menulis bergengsi, Taiwan Literature Award for Migrant selama dua kali berturut-turut. Tak hanya dikenal sebagai seorang penulis saja, Ririn yang karyanya akan diterbitkan sebagai novel ini juga dikenal sebagai asisten guru dan duta budaya Sekolah One-Forty dan Family Mart.
Ririn yang berasal dari Ponorogo ini memenangkan kategori Choice Award pada lomba menulis Taiwan Literature Award for Migrant. Naskahnya yang memenangkan lomba tahun 2024 ini berjudul “Sebuah Kenangan”. Ia terinspirasi oleh kisah lansia yang mengalami demensia, kemudian dikaitkan dengan kejadian gempa bumi yang dialami oleh Taiwan pada tahun 1999 dan tsunami di Indonesia tahun 2004 lalu. Ia juga memperkenalkan makanan asli Indonesia, perkedel, sebagai pemanis.
Sedangkan naskah yang memenangkan penghargaan pada tahun lalu, yang berjudul “Kisah Sepi”, terinspirasi dari kisah nyatanya kakek yang ia jaga selama lima tahun. Ririn menyadari bahwa pasiennya memiliki rasa kesepian yang mendalam. Kisah tersebut pun menginspirasinya untuk menulis sebuah cerita.
Ketika ditanya mengenai persiapan perlombaan, ia menjawab tidak ada persiapan khusus. Hal tersebut dikarenakan waktu bekerja yang sangat ketat bagi pekerja penjaga lansia, bahkan hampir 24 jam tanpa istirahat. Ririn pun menyatakan bahwa hanya waktu-waktu senggang tertentu ia gunakan untuk menulis dengan cepat di telepon genggamnya. Setelah tiba malam hari saat pasien beristirahat, Ririn menuangkan tulisan-tulisan kecilnya itu di laptop miliknya.
Dari perolehan penghargaan 2 kali berturut-turut, Ririn juga mendapatkan uang tunai masing-masing sebesar NT$20.000 (Rp9,854 juta), dengan total senilai NT$40 ribu. Ririn mengatakan bahwa hadiah uang tunai yang ia dapatkan sebagian ia pakai untuk menyumbangkan makanan di panti asuhan dekat tempat tinggalnya, dan sisanya ditabung.
Seperti yang dilansir dari CNA, Fokus Taiwan Indonesia, Ririn mengatakan bahwa tahun depan novel pertamanya yang berbahasa Mandarin dan Indonesia akan terbit di Taiwan. Selain novel, ternyata Ririn juga pernah meluncurkan buku antalogi (gabungan cerita pendek dari beberapa penulis) yang telah dihasilkan sebanyak 20 buku.
Ia juga mengikuti beragam kegiatan seperti menjadi guru kecil pengajar Mandarin di Sekolah One-Forty, dan sebagai penerjemah untuk membantu menerjemahkan buku berbahasa Mandarin atau video ke bahasa Indonesia.
Selain itu, ia juga pernah menjadi pengajar masakan Indonesia, dan menghadiri beragam kegiatan pertukaran budaya, sehingga pada bulan Juni 2024, ia dinobatkan sebagai duta budaya dari Sekolah One-Forty dan Family Mart. Dari sebanyak 200 orang saat proses pendaftaran, Ririn adalah salah satu orang yang terpilih sebagai duta budaya.
Di akhir wawancara Ririn berpesan bagi rekan-rekannya yang mendapat hari libur, untuk menggunakan waktu liburnya dengan hal-hal yang bermanfaat.
“Di Taiwan ini banyak sekali ragam kegiatan seperti belajar memasak, atau ikut kelas belajar Mandarin. Jangan hanya main saja, main sih boleh-boleh saja, tetapi ikutilah beberapa kegiatan yang bermanfaat untuk menambah wawasan kita," ujar Ririn.
“Mengenai teman-teman PMI yang tidak diberi izin libur, jangan bersedih. Saya juga di majikan sebelumnya tidak bisa libur, tetapi saya manfaatkan waktu senggang dengan hal-hal yang berguna, tidak hanya lihat tiktok saja. Saat waktu luang saya gunakan untuk menulis," tambahnya.
“Contoh lain, saya punya teman yang tinggal di gunung, dan tidak ada waktu libur. Ia suka minum kopi dan ia mempunyai ide untuk tidak membuang bungkus kopinya, malah mempergunakannya untuk kerajinan tangan membuat tas, atau anyaman. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa meskipun tidak bisa libur, kita bisa manfaatkan waktu untuk belajar sesuatu dari rumah," pungkas Ririn mengakhiri wawancara.





