Sejumlah pekerja migran Indonesia sektor domestik mengikuti pelatihan make up level 2 di KDEI Taipei, Minggu (16/10/2022). (Dok. Indosuara/ Aubrey Fanani)
Indosuara - Sejumlah pelatihan yang digelar setiap akhir pekan oleh berbagai kalangan untuk Pekerja Migran Indonesia di Taiwan mendapat respons positif dari para pekerja. Camellia misalnya, PMI asal Indramayu yang bekerja di Taipei ini mengaku sangat terbantu oleh banyaknya pelatihan-pelatihan tersebut.
Ditemui Indosuara saat sesi pelatihan make up yang digelar Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, pada Minggu, Camellia menyebut pelatihan seperti ini mampu menggali bakat PMI yang mungkin sebelumnya ia tidak sadari. Kamelia sendiri sudah cukup sering mengikuti kelas-kelas ini.
"Setiap ada kelas make up ada kelas sulam, selalu ikut. Suka banget dengan hal-hal yang bermanfaat seperti ini," kata Camellia.
Menurutnya, dengan waktu libur yang terbatas, alangkah baiknya jika PMI mengisinya dengan kegiatan bermanfaat. Soalnya, pelatihan yang didapat bisa menunjang hidup mereka saat sudah harus pulang ke Indonesia nanti.
Camellia menyebut, sebagai PMI tentu bukan hal yang mudah untuk bisa menyalurkan minat dan bakat. Selain waktu libur yang terbatas, waktu luang pun kadang tidak banyak. Oleh karena itu, setiap ada kesempatan, perempuan yang sudah sembilan tahun berada di Taiwan ini tetap menyempatkan diri.
"Iya berjuang banget. Seperti hari ini, hujan misalnya, meskipun harus basah-basah ya saya manfaatkan. Alhamdulillah perjuangan banget. Harus dimanfaatkan ruang ini. Lebih baik cari ilmu (dalam mengisi liburan) agar pulang bisa lebih enak," kata dia.
Menurut dia, meski bekerja sebagai pekerja migran, para PMI hendaknya tak melupakan cita-cita mereka. Ketika sudah memegang cita-cita, maka kejarlah dengan menuntut ilmunya sebisa dan sebanyak mungkin. Camellia sendiri berharap, sepulangnya dia dari Taiwan bisa membuka bisnis sendiri, terutama salon.
"Karena di Indonesia benar-benar cari pekerjaan susah. Kalau kita tidak berilmu, susah juga. Makanya harus dimanfaatkan untuk terus menuntut ilmu," kata dia.
Dari pelatihan-pelatihan yang dia ikuti saat ini Camellia telah memiliki banyak keahlian di bidang kecantikan, seperti menggunting rambut. Dia mengaku telah menguasai cara menggunting rambut untuk tujuh model. Keahlian lainnya adalah merias wajah untuk riasan natural dan glamor serta menyulam alis.
Sementara itu, Sulistyowati, PMI dari Purworejo, Jawa Tengah juga memilih menggunakan liburannya untuk hal-hal bermanfaat seperti mengikuti pelatihan make up. Dia merasa terbantu dengan pelatihan-pelatihan seperti ini.
Pelatihan make up yang dia ikuti misalnya, tidak hanya menjelaskan mengenai bagaimana cara merias, tetapi juga langkah-langkah yang harus dilakukan jika ingin membuka usaha di bidang tersebut.
Dia memang sudah memiliki kemampuan merias wajah yang dia pelajari secara otodidak. Dengan adanya pelatihan dia menjadi paham teknik dasar yang tidak dia ketahui dengan belajar sendiri.
"Saya berharap para PMI ke depannya bisa membuka usaha macam-macam di Indonesia," ucap dia.
Sama seperti Camelia, Sulistyowati juga cukup sering ikut pelatihan di KDEI. Beberapa pelatihan yang sudah ia ikuti di antaranya pelatihan menyulam alis.
Sementara itu, Analis Bidang Ketenagakerjaan Analis Bidang Ketenagakerjaan KDEI Taipei Noerman Adhiguna pelatihan bidang kecantikan memang paling menarik minat pekerja migran untuk berpartisipasi.
Tahun ini sudah beberapa kali KDEI Taipei menggelar pelatihan terkait bidang kecantikan, seperti pelatihan sulam alis, dan make up.
“Setiap pelatihan kecantikan pasti peminatnya banyak sekali. Seperti sulam alis, kami sudah menyelenggarakannya hingga tingkat dua, mungkin ke depan kami akan menggelar pelatihan sulam alis untuk tingkat tiga,” kata dia.





