**Indosuara** – Lembaga non swadaya Taiwan International Workers’ Association (TIWA) menyerukan kepada pekerja migran untuk berserikat, hal ini penting untuk menggalang kekuatan dan menekan pemerintah Taiwan agar mau membuat kebijakan yang berpihak pada buruh terutama pada pekerja migran.
“Para pekerja migran harus berorganisasi dan berserikat, karena jika mengandalkan kekuatan individu saja posisinya sangat lemah. Kalau berorganisasi maka kekuatan yang dihimpun akan banyak dan menjadi kuat. Pekerja migran itu sebenarnya sangat punya kekuatan namun memang mesti berserikat,” kata salah satu pegiat TIWA, Untha.
Saat ini, menurut Untha, kekuatan serikat yang dimiliki oleh para pekerja migran baik migran Indonesia dan lainnya masih tersebar dan belum padu. Hal itu juga yang membuat mengapa desakan-desakan yang dilontarkan oleh para pekerja migran terhadap pemerintah Taiwan masih belum bisa mendorong pemerintah untuk mengubah kebijakannya.
Misalnya saja, untuk tuntutan “bebas pindah majikan”. Saat ini para buruh migran masih tidak bisa leluasa untuk pindah majikan terkait aturan yang dibuat oleh pemerintah. Sudah berkali-kali para pekerja migran menuntut perubahan kebijakan tersebut, namun sampai sekarang belum mengalami perubahan.
Selain berserikat, dia juga menyarankan para buruh migran juga menggandeng kekuatan bersama pekerja lokal agar kekuatan yang dihimpun semakin besar.
“Jadi sebenarnya pemerintah Taiwan tidak memandang apakah yang menuntut pekerja lokal atau pekerja migran, yang mereka lihat adalah besarnya suara yang mendesak mereka. Jika pekerja migran dan pekerja lokal bersatu maka tuntutannya akan semakin besar,” kata Untha.
Dia juga menyadari agar pekerja migran dan pekerja lokal dapat bersatu, memang tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa kendala seperti budaya dan bahasa yang membuat kedua pihak ini sulit bertemu. Belum lagi, misalnya iklim pekerjaan yang sengaja membuat para pekerja ini terkotak-kotak sehingga gerakannya tidak bersatu.
Oleh sebab itu, TIWA berupaya agar pekerja lokal dan pekerja migran dapat saling mengenal dan saling mendukung gerakan satu sama lain.
“Selama ini pekerja lokal tidak mengetahui masalah yang dihadapi oleh buruh migran. Misalnya, mereka tidak tahu kalau para pekerja migran dibebankan biaya agensi yang begitu besar, jika mereka mengetahuinya mereka bisa membantu dan bersolidaritas untuk menyuarakan permasalahan ini,” kata Untha.
Tak hanya itu, TIWA juga berharap para pekerja migran seperti serikat buruh migran Indonesia mau berkonsolidasi dengan buruh migran dari Vietnam, Filipina, dan juga Thailand.
Sementara pegiat buruh Indonesia, Ignas menilai para buruh migran Indonesia yang ada di Taiwan cenderung pasif dan belum menilai pentingnya berorganisasi.
“Biasanya mereka hanya peduli saat mereka terjerat kasus, setelah kasusnya selesai mereka akan melupakannya. Tidak sedikit pula dari mereka yang pragmatis dan cenderung oportunis. Ketika ada teman yang terkena kasus mereka malah mengambil keuntungan,” kata dia.





