**Indosuara** - Perlombaan "Penghargaan Sastra Migran 2023" telah dibuka, perlombaan ini mendorong para migran yang ada di Taiwan untuk mengekspresikan diri mereka dalam bentuk sastra baik cerita fiksi, puisi, dan lainnya ke dalam bahasa ibunya.
Taiwan yang memiliki jumlah imigran dan pekerja migran yang terus berkembang, Penghargaan Sastra Migran atau Taiwan Literature Award for Migrants juga memiliki tujuan agar penduduk Taiwan dapat belajar lebih tentang budaya dan cerita dari para imigran yang tinggal di Taiwan.
Lomba dapat diikuti oleh pekerja migran, penduduk baru, dan anak-anak penduduk baru yang tinggal atau pernah tinggal di Taiwan.
Karya yang dilampirkan sebaiknya dalam 3000 kata dan bentuk tulisan yang diberikan adalah bebas. Panitia perlombaan tidak membatasi tema maupun isi tulisan. Setiap orang hanya memperbolehkan mengirim satu hasil karya.
Karya tulisan dapat ditulis dalam bahasa Vietnam, Thailand, Indonesia, Tagalog atau Myanmar. Waktu pengiriman karya dimulai sejak Maret hingga Juni 5 2023.
Hadian pertama untuk satu pemenang akan mendapatkan uang sebesar 100 ribu dolar Taiwan beserta satu piala. Kemudian hadiah juri untuk satu pemenang adalah hadiah sebesar 80 ribu dolar taiwan berserta satu piala. Hadiah favorit untuk tiga orang, yaitu uang sebesar 20 ribu dolar Taiwan beserta satu piala, dan hadiah juri teruna untuk tiga orang dengan hadiah 20 ribu dolar Taiwan beserta satu piala.
Penghargaan Sastra Migran ini telah digelar sejak 2014, yang diinisiasi oleh Cheng Chang, pendiri dan mantan editor majalah 4-Way Voice.
Melalui sastra, Cheng Chang ingin para migran di Taiwan membuat sejarahnya melalui menulis, para migran dapat membangun tradisi literatur baur untuk menulis tentang negara asalnya, tentang keturunan mereka, dan tentang diaspora.
Saat ini, penghargaan ini hanya menerima tulisan yang ditulis dalam bahasa Thai, Indonesia, Vietnam, Tagalog, dan Myanmar, karena kebanyakan migran yang berada di Taiwan berasal dari negara-negara Asia Tenggara.
Para migran biasanya menceritakan tentang kerinduan mereka akan sanak keluarga, tanah airnya, dan kesedihan mereka ketika mendengar tentang seorang yang mereka cintai meninggal.





