Peneliti lintas selatan Taiwan dari UI, Broto Wardoyo, Ph.D. Foto diambil dari Fokus Taiwan Indonesia.
Broto Wardoyo, seorang pengamat hubungan lintas selat Taiwan dari Universitas Indonesia
Pada hari Senin (5/8) menekankan pentingnya menambah diplomat dan kantor perwakilan Indonesia di Taiwan, tak hanya terletak di Taipei saja, melainkan juga di selatan Taiwan.
Seperti yang dirangkum dari Fokus Taiwan Indonesia, Broto menyatakan hal tersebut pada saat kegiatan panel diskusi bertajuk “Ketegangan Selat Taiwan, Reaksi Asia Tenggara, dan Dampak Bagi Indonesia” yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia dan Paramidana Foreign Policy Institute di Jakarta.
Menurut Broto, perlindungan WNI di luar negeri merupakan poin utama dari kebijakan luar negeri Indonesia. Dikarenakan banyaknya WNI yang ada di Taiwan, maka diperlukan lebih dari 1 kantor perwakilan.
Berdasarkan data pemerintah Taiwan, ada sekitar 300 ribu orang Indonesia yang berada di Taiwan. Pengawasan terhadap 300 ribu orang ini tidak bisa dilakukan oleh Kantor perwakilan Indonesia di Taiwan jika kantor tersebut hanya mendirikan 1 perwakilan saja.
Penempatan diplomat dari Kementerian Luar Negeri di Taiwan terbilang baru yakni pada tahun 2018 dan itu pun hanya dua orang saja, kata Broto.
Broto juga mengingatkan bahwa WNI di Taiwan tidak terpusat di satu kota saja, melainkan tersebar di banyak kota. Ini juga membuat penanganan kasus WNI di sana menjadi semakin kompleks dan sulit.
Oleh karena itu, Broto menilai perlunya membuat perwakilan lain di bagian selatan Taiwan.
Broto yang dikenal sebagai lulusan dari National Cheng Chi University di Taiwan juga menuturkan bahwa butuh perhatian yang besar bagi WNI yang ada di Taiwan, maka dari itu, ia mendorong untuk diusulkannya satu lagi pendirian kantor perwakilan Indonesia di Selatan Taiwan.





