Foto: RTI
Indosuara — Kebijakan baru yang memudahkan merekrut PMA di sektor perawat tanpa lagi harus memperlihatkan skor dari Barthel Indeks (巴氏量表 baca: Bā shì liàng biǎo) dianggap mengkhawatirkan bagi pasien rentan. Dikutip dari Radio Taiwan Internasional, meski kebijakan baru ini akan membantu 600 ribu calon pasien tetapi bisa jadi pasien yang memiliki gejala lebih kritis/parah justru terabaikan.
Sekjen Taiwan Association of Family Caregivers (TAFC), Chen Jing-ning (陳景寧) mengatakan, "Sebagian besar perawat asing akan lebih memilih untuk merawat pasien dengan kondisi penyakit yang lebih ringan, sehingga ada kemungkinan mereka akan menghindari merawat pasien dengan kondisi penyakit yang lebih berat atau kompleks."
Sementara itu, Chen Yun-jing menambahkan, "Sangat disayangkan jika ada yang membutuhkan namun tidak mendapatkan pelayanan."
Sementara itu, Taiwan Alzheimer’s Disease Association (TADA) rutin menggelar aktivitas pembelajaran bagi para lansia. Dalam setiap kelas yang diadakan, dapat terlihat banyak para orang tua yang datang untuk turut berpartisipasi. Dan kebanyakan diantaranya pasti ditemani oleh PMA perawat asing.
Hal ini mencerminkan bahwa peran para perawat asing di Taiwan menjadi semakin krusial seiring berjalannya waktu.
"Setelah kelonggaran ini diberlakukan, kami berharap akan ada integrasi yang lebih erat antara perawat asing dengan sistem perawatan jangka panjang, sehingga keseluruhan layanan dapat tersusun rapi dalam satu mekanisme perawatan yang terpadu,” kata Sekjen TADA, Chen Yun-jing (陳筠靜)





