Foto diambil dari CNA.
Seorang pekerja migran Indonesia terbang ke Kabupaten Penghu tanpa menunggu hasil tes COVID-19-nya, ternyata positif, berpotensi menularkan 53 orang ke virus tersebut.
Pada Kamis sore (16 Desember), pekerja migran ABK berusia 44 tahun itu terbang dari Kaohsiung ke Magong, di mana dia bersiap untuk melaut untuk bekerja. Namun, ia tidak bisa menunggu hasil tes PCR yang diambil sebelum berakhirnya pemantauan kesehatan dirinya pada Rabu (15 Desember) yang kembali positif COVID, dengan nilai Ct 37,06.
Departemen Kesehatan Pemerintah Kota Kaohsiung pada Kamis malam mengumumkan pria itu telah menerima dosis kedua vaksin Moderna dua minggu sebelum terbang ke Taiwan. Dia tiba di Taiwan pada 23 November dan pada 24 November ditempatkan di pusat karantina.
Tes PCR yang diambil pada saat kedatangan di Taiwan kembali negatif dan tes lain yang diambil pada akhir karantina 14 hari pada 6 Desember juga negatif. Dia menghabiskan tujuh hari berikutnya untuk pemantauan kesehatan diri di pusat karantina.
Setelah menjalani karantina dan pemantauan kesehatan diri selama 21 hari, pria Indonesia itu dijadwalkan mulai bekerja di Penghu. Pada hari Rabu, ia diterbangkan oleh agensi tenaga kerjanya ke asrama perusahaan di Distrik Nanzih Kota Kaohsiung.
Sore itu, dia menjalani tes PCR. Meski belum menerima hasil tes, ia naik pesawat domestik menuju Penghu pada Kamis sore.
Pukul 5 sore hasilnya positif COVID, tapi saat itu dia sudah terbang ke Magong Penghu. Departemen kesehatan mengatakan bahwa calo tenaga kerjanya melanggar Undang-Undang Pengendalian Penyakit Menular (傳染病防治法) dan berjanji untuk meminta pertanggungjawaban mereka sesuai dengan hukum.
Departemen kesehatan mengatakan kasus itu berada di Kota Kaohsiung selama sekitar 24 jam. Kecuali untuk mengikuti tes PCR, pria itu tinggal di asrama selama sisa waktunya di kota.
Menurut penyelidikan awal, 53 kontak telah terdaftar dalam kasusnya, termasuk pengemudi kendaraan pencegahan epidemi, 21 rekan pekerja migran (3 di antaranya dinyatakan negatif), 12 karyawan agen tenaga kerja, dan 19 sesama penumpang maskapai. Karena pria itu tidak menunjukkan gejala dan mengingat nilai Ct-nya yang tinggi, para pejabat yakin dia terinfeksi di Indonesia dan saat ini mengkategorikannya sebagai kasus impor.





