PCINU Taiwan rayakan Hari Santri di National Taiwan Museum, Taipei, Minggu (23/10/2022). (Dok. Indosuara/Aubrey Fanani)
**Indosuara**– Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan merayakan Hari Santri Nasional di National Taiwan Museum, Taipei, dalam acara tersebut ratusan pekerja migran dan mahasiswa ikut hadir.
PCINU mengingatkan kepada seluruh santri yang berada di Taiwan untuk senantiasa menjaga martabat kemanusiaan dalam rangka berhikmat kepada agama.
Hal itu disampaikan Wakil Tanfidzyah PCINU Taiwan Robert Tri Sasongko saat upacara peringatan Hari Santri dan Hari Lahir PCINU Taiwan di National Taiwan Museum, Taipei, Minggu (23/10/2022).
“Menjaga martabat kemanusiaan adalah esensi ajaran agama terutama dalam konteks Indonesia yang majemuk. Santri Taiwan harus ikut berbakti dan mengabdi kepada negeri kita tercinta, Indonesia dan mengabdi kepada NU,” kata dia.
Dia mengatakan tema perayaan Hari Santri Nasional dimulai sejak ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2015. Pada perayaan Hari Santri 2022, temanya adalah Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan.
Berdaya berarti santri memiliki kemampuan untuk menjadi apa saja yang diinginkannya, meski citra santri dekat dengan ilmu agama namun di masa saat ini banyak juga santri yang tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga menguasai ilmu sosial, sains, dan teknologi.
“Meski santri bisa menjadi apa saja, tetapi santri tidak akan melupakan tugasnya untuk menjaga agama, sebab tujuan agama adalah memuliakan manusia. Agama tidak diturunkan untuk merendahkan martabat manusia,” kata dia.
Selain itu santri juga merupakan pribadi yang selalu siap sedia mendarmabaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara, apalagi selalu ada dalam setiap fase Indonesia, mulai dari prakemerdekaan hingga masa kini.
Dia mengingatkan peran santri saat melawan penjajah yang senantiasa mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut.
“Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa melawan penjajah. Mereka menyusun kekuatannya di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, mengajarkan arti kemerdekaan, kebinekaan dan kedaulatan Indonesia,” kata dia.
Resolusi Jihad yang ditetapkan oleh KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 telah membakar patriotisme dan nasionalisme para santri. Tak hanya itu, masyarakat juga bergerak bersama, bahu-membahu untuk melawan penjajah.
“Peringatan Hari Nasional mengingatkan kita kepada peran santri menjaga keutuhan Indonesia, diantaranya adalah KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Ahmad Hasan, Bung Tomo, dan masih banyak pejuang santri yang tak terhitung jumlahnya. Mereka berikan kontribusi besar dalam menjaga keutuhan Indonesia,” kata dia.
Tak hanya merayakan Hari Santri, kesempatan itu juga menjadi hari perayaan lahirnya PCINU Taiwan ke-14. PCINU Taiwan hadir untuk mendorong semangat beribadah para pekerja migran dan juga mempererat hubungan mahasiswa dan pekerja Indonesia di Taiwan. PCINU kini telah memiliki 13 ranting.
Acara tersebut berlangsung dari pukul 09.00-16.00, diisi dengan berbagai acara, mulai dari perlombaan shalawat dan hadrah, upacara peringatan, serta pelantikan pengurus PCINU Taiwan.





