**Indosuara** - Kementerian Tenaga Kerja Taiwan telah melonggarkan langkah-langkah pencegahan epidemi untuk masuknya pekerja migran, salah satunya adalah mulai 15 Maret, pekerja migran yang datang atau baru balik cuti tidak perlu lagi melakukan karantina di Taiwan.
Hal tersebut diumumkan oleh Shelter SPA Bisa Membantu Anda di akun Facebook resminya.
"Alhamdulillah kabar gembira untuk para PMI, mulai tanggal 15 bulan 3 semua PMI (yang baru datang ataupun cuti) sudah tidak karantina, yang penting tetap patuhi protokol pemerintah, jadi sudah tidak usah repot dan keluarkan biaya mahal ya," tulis Shelter SPA.
Dalam pengumuman yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja Taiwan, persyaratan tentang karantina satu orang satu kamar dengan satu kamar mandi pribadi bagi pekerja migran yang hendak masuk ke taiwan sudah tidak diberlakukan lagi.
Sebagai gantinya, PMI dapat melakukan pencegahan pandemi mandiri di rumah majikan, mess, hotel, atau losemen dengan prinsi 1 orang 1 kamar dengan kamar mandi tersendiri. PMI juga tidak perlu mendaftarkan lokasi pencegahan pandemi.
Saat masa pencegahan pandemi mandiri, PMI sudah diperbolehkan bekerja dan keluar rumah, tetapi tetap harus mematuhi peraturan pencegahan pandemi dari CECC.
Sebelumnya pada 20 Februari sejumlah pekerja migran dan juga organisasi yang bergerak membela pekerja migran telah melakukan protes untuk peraturan yang dianggap mendiskriminasi para pekerja migran berkerah biru terutama para migran yang bekerja di sektor domestik.
Mereka menggelar protes di depan Eksekutif Yuan di Taipei yang menuntut kesetaraan terkait peraturan pandemi bagi masyarakat umum dan pekerja migran.
Sistem karantina COVID-19 sebelumnya dianggap diskriminatif karena hanya berlaku bagi pekerja migran asing di Taiwan. Peraturan tersebut berbeda bagi warga asing lainya yang datang ke Taiwan bukan sebagai pekerja migran, mereka tidak dituntut untuk melakukan karantina.
Lembaga Taiwan International Workers Association juga menyebut pihaknya banyak menerima laporan bahwa banyak pekerja migran yang hendak balik ke Taiwan terpaksa harus membayar lebih karena peraturan tersebut.
"Pada saat pelonggaran pencegahan epidemi secara bertahap dicabut, banyak orang bahkan bepergian ke Asia Tenggara, namun mengapa hanya pekerja migran kerah biru yang diperlakukan berbeda?" kata TIWA.





