Foto diambil dari CNA.
Kementerian Tenaga Kerja Taiwan (MOL) melalukan survei tentang pekerja migran pada tahun 2025, yang menunjukkan kenaikan gaji baik untuk pekerja maupun perawat, namun hambatan bahasa tetap menjadi tantangan utama yang dihadapi para pemberi kerja atau majikan.
Seperti yang dilansir dari Focus Taiwan CNA, survei tahunan yang dilakukan pada Juli hingga Agustus tahun lalu ini mengumpulkan 8.545 tanggapan yang valid, termasuk 4.523 perusahaan di sektor manufaktur, konstruksi, pertanian, dan perikanan yang mempekerjakan pekerja, serta 4.022 pemberi kerja rumah tangga untuk perawat.
Menurut laporan survei MOL, bagi pekerja migran formal yang dipekerjakan oleh perusahaan Taiwan, rata-rata gaji bulanan reguler mencapai NT$29.800 pada Juni 2025, dengan rata-rata upah lembur sebesar NT$5.100, sehingga total gaji menjadi NT$34.900, naik 4,7 persen dari NT$33.300 pada Juni 2024.
Sementara sector informal atau perawat yang dipekerjakan oleh rumah tangga tidak tercakup dalam undang-undang tersebut dan tunduk pada gaji minimum bulanan terpisah sebesar NT$20.000.
Laporan tersebut menunjukkan gaji reguler perawat rata-rata sebesar NT$21.300 pada Juni tahun lalu, dengan rata-rata upah lembur sebesar NT$2.800, sehingga total gabungan sekitar NT$24.200, naik 1,8 persen dari NT$23.800 setahun sebelumnya.
Masalah kedua yang paling umum berbeda antara kedua kelompok, di mana perusahaan paling sering menyebut kurangnya kerja sama (12,6 persen), sementara pemberi kerja rumah tangga menunjuk pada perawat yang menghabiskan waktu dengan ponsel atau mengobrol (10,1 persen).








