Foto: RTI
Indosuara — Masalah tenaga kerja kaburan masih menjadi isu yang disorot oleh pemerintah Taiwan. Tak heran kalau kemudian sering terjadi penangkapan pada para pekerja yang dinyatakan hilang kontak ini. Namun ada banyak alasan yang membuat jumlah tenaga kerja asing kaburan ini sulit dikurangi secara signifikan. Ini termasuk masalah ketenagakerjaan, uang, lingkungan dan lainnya.
Dikutip dari Radio Taiwan Internasional, dalam beberapa tahun terakhir ini kaburan juga disebabkan pembatasan pekerja migran yang masuk Taiwan di era pandemi sehingga Taiwan mengalami krisis tenaga kerja secara serius. Selain itu ditambah dengan ketidakmampuan memulangkan pekerja illegal ke negara asalnya, sehingga angka pekerja hilang kontak semakin tinggi. Hingga akhir bulan Juni total pekerja migran “hilang kontak” mencapai 82.822 orang, ditambah WNA yang overstay berkisar 30.000 orang.
Ada juga asumsi bahwa pekerja “hilang kontak” tidak hanya harus diselesaikan oleh Badan Keimigrasian sendiri, tetapi juga melibatkan Kemenaker dalam membuat kebijakan. Soalnya banyak hal terjadi pekerja kaburan masih bisa mendapatkan pekerjaan karena ada kebutuhan industri Taiwan. Tidak jarang pula pekerja ilegal mendapat imbalan tinggi daripada pekerja resmi lainnya. Oleh karena itu jika berniat menyelesaikan masalah pekerja hilang kontak, Kemenaker (MOL) harus mempelajari kebijakan terkait pekerja migran asing, terutama biaya layanan agensi patut dipertimbangkan untuk direvisi, untuk meringankan beban tanggungan pekerja migran.





