Foto diambil dari CNA.
Para ABK atau nelayan migrant yang berasal dari Filipina dan Indonesia berjoget dan bernyanyi sepuasnya saat band reggae, "Guhit," yang terdiri dari para pekerja migran dari Filipina, membawakan lagu klasik musim panas yang memukau.
Ini adalah sekilas suasana gembira di Sing for Fishers, sebuah konser yang diadakan pada tanggal 11 Agustus oleh Stella Maris Center di Cijin Harvest Square, Kaohsiung untuk memperjuangkan hak-hak para ABK. Band-band migran membawakan lagu-lagu yang menarik satu demi satu, dengan penampilan yang diselingi dengan pidato oleh kelompok ABK.
Wu Ting-kuan (吳庭寬), yang bekerja di Stella Maris Center dan mengoordinasikan konser tersebut, mengatakan kepada CNA bahwa ketika membahas isu-isu tentang nelayan migran, berinteraksi dengan lembaga pemerintah dan organisasi nonpemerintah tidaklah cukup, dan bahwa masyarakat perlu menjadi bagian tersebut.
Selain itu ada beberapa petugas dari Badan Perikanan dan Biro Urusan Ketenagakerjaan Kaohsiung yang tetap berada di pinggir lapangan yang turut hadir. Meskipun jumlah peserta yang hadir mengecewakan di kalangan masyarakat Taiwan, kelompok nelayan migran memberikan pidato dan memanfaatkan kesempatan untuk menyoroti masalah yang mereka hadapi.
"Saat ini, kami hanya bisa mandi di atas kapal. Begitu juga saat kami perlu menggunakan kamar mandi. Kami berharap pihak berwenang akan mulai membangun kamar mandi dan toilet umum [di pelabuhan] untuk membantu kami memenuhi kebutuhan dasar," kata Hadi dari Paguyuban LP Ewaliao, salah satu kelompok tersebut.
Para ABK ini harus mandi di bagian kapal penangkap ikan yang tidak tertutup, mereka sering kali harus menunggu hingga larut malam saat tidak ada wisatawan di pelabuhan agar mereka bisa mendapatkan privasi, kata seorang sumber di Stella Maris.
Lebih jauh lagi, karena mesin kapal dimatikan pada malam hari, menggunakan kamar mandi di atas kapal akan menimbulkan bau busuk, tetapi tidak ada pilihan lain karena kamar mandi umum di dekat Pelabuhan Kezailiao (juga dikenal sebagai Pelabuhan Ewaliao dalam bahasa Hokkien) terkunci setelah gelap, ujar sumber tersebut mengungkapkan.





