Foto: Taiwan News
Indosuara -- PRT dari Indonesia beberapa bulan lalu mengalami kecelakaan lalin dan mengakibatkan tempurung lututnya retak. Dikutip dari pernyataan Gabungan Tenaga Kerja Bersolidaritas GANAS, PRT tersebut bahkan harus operasi di salah satu rumah sakit Taiwan bagian tengah.
Namun yang disoroti GANAS adalah hak pekerja. Soalnya di rumah sakit dia disuruh menandatangani dokumen yang berisi pernyataan tentang pengurusan kecelakaan beserta dengan segala konsekuensinya. Dengan masih dalam keadaan sakit ditambah dengan ketidaktahuannya dia tanda tangan semua itu.
“Majikan juga memberitahu jika dia sudah tidak diperlukan lagi bekerja karena kondisinya. Agensi juga memberi surat pernyataan mengijinkan dia boleh tinggal diluar mess agensi. Lagi lagi karena tidak mengerti hukum diapun tanda tangan tanpa berpikir segala resiko di depan nanti,” kata GANAS.
Selama ini dia tidak ada pihak yang mendampingi secara hukum. Ia tinggal selama dua bulan secara mandiri dan tetap ke rumah sakit untuk kontrol. Biaya sudah keluar banyak, hingga suatu hari ada pemberitahuan bahwa uang kompensasi kecelakaan akan turun namun harus dipotong 30%.
”Mendengar ini ia panik dan merasa khawatir karena dengan kondisi yang masih belum sehat ditambah dengan tidak adanya biaya lagi ke depan. Lalu ada temannya yang mengarahkan untuk pengaduan ke salah satu pihak yang dianggap bisa membantu PMI,” ucap GANAS.
Lagi karena tidak mengerti dan merasa banyak yang simpati akan nasibnya, alih-alih menggunakan jasa bantuan hukum, ia malah melakukan pengungkapan sendiri melalui live streaming di salah satu aplikasi sosial media. Miris lagi hal yang seharusnya dia privacy diungkap ketika itu dan publik tahu. Dia pun merasa tidak masalah karena sudah ada yang membantu dengan menjanjikan tiket kepulangan dan donasi saat itu. “Sebab dia juga ingin tahu sebenarnya hak apa yang seharusnya dapat dari masalah yang dia alami,” ujar GANAS.
Namun tidak mengira jika apa yang dia katakan seluruhnya tanpa sensor dan bagaimana komentar netizen dibaca dan diketahui oleh agensinya. Hal ini membuat agen marah dan mengintimidasi nya. Sebab dia sudah bertanda tangan bahkan tertulis adalah kemauan sendiri.
Semenjak viral itulah situasi makin rumit sementara donasi yang dijanjikan juga tidak dia terima. Dan dia tetap tidak mendapat jawaban tentang hak yang harus dia dapat.
“Dari hal itulah dia disarankan untuk konsultasi ke GANAS COMMUNITY,” ucap GANAS.
Melalui telepon dengan salah satu admin dan wawancara sekilas ditemukan beberapa pelanggaran. Sehingga harus segera ditampung ke Shelter NGO untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut dan sebenar-benarnya menurut hukum di Taiwan.
“Termasuk ijin tinggal di Taiwan secara resmi untuk maksimalkan pengobatan,” ucap dia.
Saat ini perkembangan kesehatan sudah sangat membaik dibanding ketika awal datang ke Shelter. Sekarang sudah bisa berjalan dan masih lakukan terapy dan periksa rutin hingga saat ini.
Hak dia yang dulunya harus dipotong dengan alasan ini itu sudah bisa dia dapat melalui mediasi di Depnaker. Mengingat kesehatan yang hampir pulih dia memutuskan untuk bekerja kembali setelah selesai semua pengobatan.
Lewat pengalamannya, ia sadar bahwa PRT masih harus terus bersama berjuang dan bukan hanya diviralkan tanpa solusi yang kemudian dimanfaatkan hanya demi cuan. Masalah PMI juga bukan drama yang hanya dijadikan konten semata untuk bisnis digital.





