Foto: Taiwan News
Indosuara — Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taiwan angkat bicara soal tawuran yang melibatkan dua kelompok Pekerja Migran Indonesia di Changhwa. Kepala KDEI Iqbal S Shofwan menyebut pihaknya sangat menyayangkan dan menyesalkan kejadian tersebut karena melibatkan 29 WNI khususnya PMI.
“Setiap kami menghadiri acara PMI kami selalu menitipkan pesan agar selalu mematuhi peraturan Taiwan, spesifiknya jangan berantem, dan bekerja dengan baik sesuai tujuan awal ke Taiwan,” kata Iqbal dalam wawancaranya dengan Radio Taiwan Internasional.
Sebagai representasi pemerintah Indonesia di Taiwan, Iqbal mengatakan saat ini pihaknya fokus pada pemenuhan hak WNI yang terlibat baik korban dan juga tersangka. Saat ini sudah ada satu tersangka utama dan 14 tersangka lainnya.
“Jangan sampai walaupun status tsk haknya ga bisa diberikan. Tetapi bagaimana pun proses hukum tetap berjalan,” ucap dia.
KDEI menurut Iqbal juga masih terus berkomunikasi dengan aparat penegak hukum di Taiwan dan juga melakukan temu rapat dengan sejumlah ketua organisasi PMI si Taiwan. Adapun untuk pemulangan jenazah korban tawuran, Iqbal menyebut masih menunggu mekanisme pemulangan
“Karena ada beberapa tahapan sepertivisum dulu dan waktunya paling rentan itu dua minggu,” ucap Iqbal.
Kejadian tawuran yang memakan korban jiwa memang disesalkan oleh banyak oranv Indonesia di Taiwan. Karena hal ini lebih jauh mencoreng nama Indonesia di Taiwan. Hal itu sangat terlihat dari amatan sosial media masyarakat Indonesia di Taiwan.
Pegiat sosial media Agoeng Taiwan misalnya berkomentar bahwa selama ini ada stigma yang diberikan oleh orang Taiwan kepada orang Indonesia. Dan untuk mengubah stigma itu banyak orang Indonesia di Taiwan yang berkiprah dalam hal positif baik budaya, pendidikan, teknologi, dan lain sebagainya.
“Sesaat kacamata (orang Taiwan terhadap orang Indonesia) ini sudah mulai jelas, tetapi hari ini dikotorkan kembali oleh dua kelompok manusia yang ada di Taiwan menggunakan nama Pencak Silat,” kata Agoeng dalam video yang ia unggah ke media sosial Facebook.
Unggahan Agoeng pun mendapat respons dari para pengikutnya yang kebanyakan orang Indonesia di Taiwan. Mereka mengaku marah, sedih, kesal, karena ikut terkena imbas dari kejadian tersebut. Paling tidak anggapan negatif pada orang Indonesia dari orang Taiwan. Lainnya mengganggap bahwa kelompok yang terlibat membuat Indonesia malu.





