Foto: Taiwan News
Indosuara - Seorang guru prasekolah di New Taipei yang semula dituding memberikan obat penenang pada siswa mengajukan gugatan terhadap politisi yang ia nilai telah memfitnahnya. Gugatan itu ia layangkan ke Kantor Kejaksaan Distrik Taipei pada Senin (24 Juli).
Dikutip dari Taiwan News, Anggota Dewan Kota Taipei dari partai Kuomingtang (KMT), Wang Hung-wei (ηι΄»θ) menemani guru taman kanak-kanak, bermarga Ho (δ½), untuk mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap Anggota Dewan Kota New Taipei dari Partai Progresif Demokratik (DPP) Tai Wei-shan (ζ΄ηε§), Legislator DPP Lo Chih-cheng (ηΎ θ΄ζΏ), Legislator Partai Kekuatan Baru (NPP) Claire Wang (ηε©θ«), Ketua Asosiasi Hak Anak Taiwan Angela Wang (ηθε), dan profesor asosiasi Universitas Kristen Chung Yuan, Chao Ming-wei (ζεε¨).
Pada bulan Mei, guru di sebuah prasekolah swasta di Distrik Banqiao Kota New Taipei dituduh oleh orang tua memberikan obat penenang kepada siswa. Pada 12 Juli, setelah penyelidikan oleh pemerintah kota New Taipei, jaksa mengatakan tes narkoba tidak menemukan bukti adanya zat berbahaya pada para siswa.
Selama penyelidikan, DPP disebut menjadi pihak yang banyak membuat spekulasi di publik.
Ho mengatakan orang-orang yang dituntut adalah politisi, pakar, atau cendekiawan yang memanfaatkan skandal itu untuk menuduh guru secara salah melalui konferensi pers, penampilan berita TV, kelompok diskusi online, dan protes publik di luar ruangan. Guru mengatakan tindakan ini menyebabkan penderitaan yang tidak semestinya dan intimidasi, termasuk panggilan telepon yang kasar dan konfrontasi kemarahan oleh warga, yang sangat merugikan kesehatan fisik dan mental guru yang dituduh.
Seorang pengacara ditunjuk untuk mengumpulkan bahan dan bukti terhadap tokoh masyarakat yang disebutkan di atas untuk gugatan pencemaran nama baik. Ho juga mengatakan bahwa Claire Wang dan Angela Wang membocorkan nama belakang, nama Inggris, dan kelas prasekolah mereka di platform media sosial mereka, meskipun ada peringatan dari Departemen Pendidikan New Taipei, sehingga melanggar Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi.
Ho mengatakan dia tidak dapat memahami mengapa figur publik ini begitu jahat terhadap guru prasekolah yang tidak bersalah, dan mereka tidak boleh dikorbankan ketika masalah publik muncul. Ho menambahkan bahwa ketika vonis tidak bersalah disampaikan, orang-orang yang disebutkan dalam gugatan tersebut gagal untuk meminta maaf. Hal ini menambah penghinaan dan luka mendalam bagi psikoligis guru sebagai korban.





