Foto: Taiwan News
Indosuara -- Dua orang Taiwan termasuk di antara lebih dari 1.000 korban perdagangan manusia yang dibebaskan dari zona industri di Filipina baru-baru ini. Berdasarkan laporan mengatakan Jumat (5 Mei) yang dikutip dari Taiwan News, kabar perdagangan manusia ini mencuat setelah para pekerja Indonesia yang ditahan di Zona Clark Freeport menghubungi kedutaan mereka di Manila. Mereka mengirimkan foto-foto rekan mereka yang sakit, menurut sebuah laporan oleh situs berita Rappler.
Dari situ, misi Indonesia memberi tahu pihak berwenang Filipina, yang menemukan 1.048 korban dugaan perdagangan manusia dan kerja paksa di Clark Sun Valley Hub Corporation.
Ternyata di situ tidak hanya ada orang Indonesia. Para pekerja termasuk 129 orang Filipina, 389 orang Vietnam, 307 orang Cina, 143 orang Indonesia, 40 orang Nepal, 25 orang Malaysia, tujuh orang Myanmar, lima orang Thailand, dua orang Taiwan, dan satu warga negara Hong Kong, menurut Rappler.
Mereka bekerja 18 jam sehari setelah paspor mereka disita setibanya di fasilitas tersebut, dengan sebagian besar pekerjaan mereka berfokus pada penipuan online. Para pekerja dipaksa untuk "merekrut" setidaknya 20 investor dalam mata uang kripto per hari.
Kantor perwakilan Taiwan di Filipina mengatakan pihak berwenang setempat masih menyaring bukti dan meneliti latar belakang orang-orang yang terlibat, lapor CNA.





