Foto: UDN
Indosuara -- Seorang PMA asal Vietnam diminta mundur dari perusahaan tempat ia bekerja dan diduga berhubungan dengan kehamilannya. Dikutip dari Radio Taiwan Internasional, PMA ini bekerja shift malam di pabrik GARMIN. Mulanya ia merasa tak enak badan dan memeriksakan dirinya ke dokter. Namun ternyata apa yang ia rasakan adalah tanda kehamilan. Ia baru mengetahui dirinya hamil 3 minggu.
Pada tanggal 1 Maret 2023 ia memberitahu supervisornya tak disangka disuruh menghadap kepada divisi.
Kepala divisi menyalahkannya tidak memberitahu kehamilannya lebih awal, sehingga memengaruhi pekerjaan karyawan lainnya, dan memintanya mengambil cuti. Pada tanggal 21 Maret penerjemah agensi datang ke mess membawa surat pengunduran diri dan memintanya untuk tanda tangan, tanpa memberitahu hak kepentingannya atau alternatif lain yang dapat dipilih, sehingga PMA ini tidak mengetahui hak dan hukum perlindungan bagi pekerja hamil dan mengira wajib pulang ke negara asal karena hamil.
Perlakuan dari perusahaan mendapat respons dari LSM yang concern di isu PMA. Asosiasi SPA menjadi salah satu kelompok yang mengadvokasi PMA ini. Mereka mencurigai perusahaan GARMIN membiarkan agensinya mengelabui pekerja agar mundur. Padahal hak untuk hamil juga telah diatur.
"Mana mungkin pihak perusahaan tidak mengetahui bahwa cara demikian tidak benar dan akan merugikan pekerja migran wanita yang dianggap sebagai kaum lemah? Apa tindakan demikian benar? Maka Asosiasi SPA meragukan ketidaktahuan dari pihak perusahaan, agensi yang tidak memiliki standar? Ataukah perusahaan GARMIN jelas dan setuju dengan tindakan agensi? SPA meminta klarifikasi dari pihak perusahaan," demikian hal yang dipertanyakan SPA.
Kendati demikian, pihak perusahaan mengklarifikasikan, pihaknya sejak awal memperhatikan karyawan, tidak meminta karyawan (termasuk pekerja migran) hamil untuk mengundurkan diri, apabila karyawan hamil maka disesuaikan dengan UU Ketenagakerjaan membantu pekerja pindah kerja ke shift pagi, serta mengutus unit kesehatan untuk memantau kondisinya. Hingga saat ini di perusahaan GARMIN hampir 20 pekerja migran yang hamil dan tetap bekerja pasca melahirkan. Perusahaan juga memberikan cuti melahirkan dan cuti merawat anak yang sesuai dengan kebutuhan karyawan, hak kerja dan gaji pekerja tidak akan dirugikan.





