Delapan ABK Indonesia yang menghabiskan delapan bulan terakhir di MV Jian Ye, kapal yang berlabuh di Kaohsiung Taiwan akhirnya bisa pulang ke Indonesia. Mereka turun dari kapal pada 28 Oktober dan pulang ke Indonesia 29 Oktober.
Melalui media sosialnya, Fahmi, salah satu ABK Indonesia berterimakasih atas pendampingan yang dilakukan oleh sejumlah pihak saat menangani kasus mereka. Di antaranya Pemerintah Indonesia, KDEI Taipei, juga anggota DPR RI dari partai NasDem, Hillary Brigitta. Hillary selama ini mengadvokasi kasus mereka.
"Terimakasih bantuan dan doanya teman-teman semua. Alhamdulillah hari ini kami bisa turun dari kapal dan insyaAllah besok siang terbang ke Jakarta," kata Fahmi.
Menurut Fahmi, berdasarkan kesepakatan, perusahaan hanya memberi kompensasi 700 USD bagi ABK Indonesia dari total sembilan bulan gaji yang tidak dibayar. Kendati begitu, Fahmi menyebut ABK sudah ikhlas. Ia percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur dan kesepakatan ini adalah kesepakatan terbaik yangs udah diterima oleh mereka.
"Yang paling penting kami bisa pulang ke Indonesia bertemu keluarga dan mencari pekerjaan baru," kata dia.
Untuk diketahui, MV Jian Ye adalah sebuah kapal kargo yang terdaftar di Togo, kehilangan daya selama cuaca buruk dalam perjalanannya dari Taiwan ke Korea Selatan. Kapal lalu ditarik ke Kaohsiung pada bulan Februari untuk mencegah polusi. Namun, anggota kru tidak dapat bergerak ke darat sampai kru pengganti tiba.
Pergantian kru dilakukan setelah Taiwan membuka perbatasannya untuk pendatang asing pada 13 Oktober lalu. Pihak berwenang awalnya merekrut delapan orang di Myanmar untuk bekerja di Jian Ye. Tetapi karena sejumlah masalah dengan dokumen mereka, para pekerja baru tidak dapat menyelesaikan aplikasi visa mereka. tepat waktu.
Selama badai Februari, kapal telah berlabuh di Keelung, tetapi kabel jangkarnya putus, membuat Jian Ye terombang-ambing. Kapal tersebut berada di perairan dekat Penghu ketika Biro Kelautan dan Pelabuhan mengambil alih kapal tersebut.
Selama tinggal di Kaohsiung, pemilik kapal, Cheung Fat Shipping Co., Ltd. yang berbasis di Hong Kong, meninggalkan awak kapal karena masalah keuangan. Pengusaha meninggalkan ABK Indonesia tanpa makanan atau uang. Pihak berwenang memanggil kelompok amal dan kantor perwakilan Indonesia di Taipei untuk meminta bantuan.





