Anak Buah Kapal MV Jian Ye asal Indonesia meminta bantuan agar segera balik ke Indonesia. Mereka sudah terkatung-katung di kapal tersebut sejak Februari, hingga kini belum ada kepastian mereka kapan pulang. (Dok. Istimewa)
**Indosuara** - Delapan Anak Buah Kapal MV Jian Ye asal Indonesia yang masih tertahan di kapal tersebut dan masih terkatung-katung di Pelabuhan Kaohsiung sejak Februari kini dalam berada situasi yang tidak aman. Sejak beritanya ramai pada Juli 2022 lalu, belum ada progres yang signifikan atas penyelesaian kasus mereka.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @fahmifahmal17, seorang ABK di kapal tersebut, semalam para ABK Indonesia mendapat ancaman serangan dari seorang ABK China yang juga bekerja di kapal tersebut. Kejadian bermula saat ABK China itu pulang ke kapal dalam keadaan mabuk.
Setibanya di kapal, ABK China yang memang satu-satunya di kapal tersebut marah dan mengambil sebuah kapak lalu mengarahkannya kepada para kru. Tidak cukup di situ, ia juga mengambil pisau dan menodongkannya ke kapten.
Di tengah situasi yang mencekam ini, sebagian kru Indonesia sigap menghubungi pihak Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei. KDEI pun mengirimkan polisi untuk segera datang ke lokasi. Tidak ada korban jiwa dalam insiden pengancaman tersebut.
Dihubungi via WhatsApp, Fahmi, ABK Indonesia di MV Jian Ye yang mengunggah video itu membenarkan kejadian tersebut. Menurut dia, saat ini situasi makin para dan tidak aman bagi para kru Indonesia.
"Semalam kru China mabok dan ingin membunuh kru Indonesia," kata dia.
Fahmi pun heran kenapa kru China ini bisa turun dari kapal. Sementara aturan pemerintah Taiwan meminta seluruh kru MV Jian Ye untuk tetap bertahan di kapal sampai ada kabar pemulangan.
"Dia dijemput oleh teman-temannya. Bagaimana kru China ini bisa keluar kapal, keluar pelabuhan, dan pesta minuman keras?," kata dia.
Setelah kejadian ini pun, si kru China hanya diintrogasi oleh polisi, namun tidak diamankan. Dalam video Fahmi yang lain, kru China itu bahkan masih mengancam para kru Indonesia yang ada di kapal secara verbal.
"Kami rencana meninggalkan kapal, tapi masih belum diperbolehkan," kata dia.
Fahmi pun meminta pemerintah dan pihak-pihak terkait bergerak cepat membebaskan mereka. Menurutnya, para ABK Indonesia di MV Jian Ye sudah bersabar cukup lama dan menaati prosedur yang ditetapkan baik oleh pemerintah Taiwan maupun perwakilan Indonesia di Taiwan. Soalnya, situasi di kapal sudah semakin tidak kondusif.
Sebelumnya, sebanyak delapan orang ABK MV Jian Ye berkebangsaan Indonesia terkatung-katung di Pelabuhan Kaohsiung, Taiwan. Mereka sudah di sana sejak Februari, setelah perusahaan pemilik kapal kabur dan mengabaikan tanggung jawab mereka.
Kini para WNI tersebut bertahan hidup di Taiwan tanpa adanya gaji dari perusahaan dan tidak bisa pulang. Segala upaya negosiasi telah ditempuh namun belum ada kejelasan terkait nasib mereka.
Dalam pemberitaan di Focus Taiwan, para kru bisa bebas dari MV Jian Ye dengan syarat melalui prosedur pergantian kru terlebih dahulu. Pada 5 Oktober 2022 lalu, Biro Kelautan dan Pelabuhan telah menyetujui masuknya sembilan pelaut Myanmar untuk menggantikan kru dari Indonesia ini.
Kendati begitu, hingga saat ini belum ada kepastian kapan para pelaut Myanmar ini akan tiba di Taiwan.
Lembaga sosial Stella Maris yang berbasi di Kaohsiung, yang mendampingi para ABK ini mengatakan, para ABK telah menyelesaikan kontrak pada 6 September 2022. Kendati begitu, mereka masih tertahan di kapal dan tidak boleh keluar.
ABK Indonesia juga telah menyepakati perjanjikan dengan mantan majikan mereka. Yakni, setiap pelaut mendapatkan 700 USD, namun harus melepaskan hak mereka untuk mengajukan tuntutan dan pengaduan perdata dan pidana kepada perusahaan.
Para pelaut mengatakan mereka setuju dengan kesepakatan itu dan hanya ingin kembali ke Indonesia sesegera mungkin





