Foto dokumentasi CNA.
Analis Bidang Analis Tenaga Kerja Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Kadir menilai pentingnya kolaborasi seluruh pihak terutama orang Indonesia di Taiwan untuk bersama-sama terlibat dalam menangani masalah ketenagakerjaan di Taiwan.
Dalam kunjungannya ke CNA pekan lalu, Kadir menyebut saat ini di bidang yang ia pimpin memiliki total sebelas staf. Dengan sebelas orang yang ada ini, pihaknya selalu berupaya menerima dan mengelola permasalahan pekerja migran Indonesia yang ada di Taiwan.
Kadir tak memungkiri jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang ada di Taiwan jumlahnya ratusan ribu, dan dengan berbagai permasalahan yang kompleks serta tenaga yang tidak banyak tentu ini jadi tantangan tersendiri.
“Untuk itu kami bekerjasama dengan relawan, aktivis, influencer (pemengaruh) juga. Perlindungan ini enggak bisa kerja sendiri tapi harus kolaborasi. Untuk menyebarkan informasi ketenagakerjaan,” kata Kadir.
Menurut dia, yang pasti, pihaknya juga selalu melakukan evaluasi internal dan melakukan sejumlah langkah preventif agar penanganan masalah PMI di Taiwan berjalan efektif dan efisien.
Misalnya, sebelas staf yang bekerja di Bidang Tenaga Kerja sudah mempunyai keahlian dalam berbagai penanganan kasus, termasuk isu pindah majikan, sakit, pengurusan jenazah, mediasi, dan lain-lain, kata Kadir.
Sementara itu, kata Kadir, langkah preventif yang dilakukan adalah dengan selalu memperbaharui informasi ketenagakerjaan di Taiwan kepada pemangku kebijakan di Indonesia, sambil memberikan pendidikan pada PMI yang hendak berangkat tentang ke mana dan bagaimana prosedur pengaduan jika terjadi masalah di Taiwan.
“Yang penting kalau ada pengaduan harus tahu melindungi dirinya sendiri. Bilang ke majikan atau ke agensi dan ada juga saluran 1955. Kami juga stand by (siap sedia) memposisikan diri sebagai mediator terkait dengan tindak lanjut pengaduan,” ucap Kadir.
Pemanfaatan media sosial juga ia kedepankan mengingat sumber informasi kini mudah diakses oleh setiap orang lewat media sosial. Di Facebook, misalnya, Kadir mengelola laman “Save PMI Taiwan” yang kerap menjadi sarana berbagi informasi dan menerima aduan.
“Kami duduk bersama cari solusinya sesuai dengan aturan yang berlaku di sini untuk melindungi para pihak,” ucap dia.





