Foto diambil dari : Taiwan News
Taiwan akan menerapkan pendekatan tiga cabang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja saat menuju masyarakat super-usia di mana lebih dari 20% populasi berusia 65 tahun atau lebih.
Jumlah orang berusia 65 tahun atau lebih diperkirakan akan mencapai 20,7% pada tahun 2025 dan 28% pada tahun 2036. Sebuah laporan PBB menempatkan Taiwan sebagai negara dengan penuaan tercepat ketiga setelah Korea Selatan dan Singapura antara 2019 dan 2050, menurut Liberty Times.
Dikarenakan tingkat kelahiran yang rendah, Taiwan akan berupaya menarik lebih banyak pekerja asing, yang jumlahnya terus meningkat selama bertahun-tahun. Upaya juga akan dijanjikan untuk memudahkan pekerja migran menjadi imigran, dan memberikan insentif untuk mempertahankan mahasiswa internasional di negara Taiwan setelah lulus, menurut Dewan Pembangunan Nasional (NDC).
Pada bulan Desember, Kementerian Tenaga Kerja mengusulkan untuk mengizinkan pekerja migran yang telah bekerja di Taiwan selama enam tahun, memiliki serangkaian keterampilan tertentu, dan yang upahnya mencapai standar yang disyaratkan, untuk mendapatkan ijin tinggal tetap di Taiwan. Orang-orang ini akan memiliki kesempatan untuk diberikan ijin tinggal permanen jika mereka terus bekerja lagi selama lima tahun, menurut rencana yang sedang menunggu persetujuan Kabinet, kemungkinan akan berlaku awal tahun ini, menurut UDN.
Taiwan telah melihat populasinya menyusut selama dua tahun berturut-turut dari tahun 2020 di tengah tingkat kelahiran yang sangat rendah. Populasi diperkirakan menurun menjadi antara 14,49 juta dan 17,16 juta pada tahun 2070, berdasarkan perkiraan NDC, dari 23,38 juta saat ini.





