Ilustrasi Kapan Nelayan (Dok. Pixabay)
**Indosuara** - Pekerja Migran sektor laut atau yang dikenal sebagai Anak Buah Kapal berharap ke depan akan ada regulasi yang mengatur fasilitas komunikasi di kapal. Hal ini penting mengingat banyak anak buah kapal yang harus bekerja di laut lepas selama berbulan-bulan hingga tahunan namun tidak bisa menghubungi keluarga karena sulitnya akses komunikasi di atas kapal.
Aspirasi ini muncul dalam acara temu muka pimpinan 20 organisasi nelayan dan pekerja migran di Taiwan yang diinisiasi oleh Stella Maris Kaohsiung, di Kaohsiung pada tanggal 26 dan 27 November 2022 lalu. Dikutip dari laman Facebook Stella Maris, banyak ABK yang menilai fasilitas komunikasi itu di antaranya bisa diselesaikan dengan keberadaan wi-fi di kapal.
"Dalam waktu yang sudah sangat lama, para nelayan terisolasi di laut lepas dan mengalami kesulitan berkomunikasi. Mereka tidak bisa menghubungi orang yang ada di luar," kata Stella Maris.
Oleh karena itu mereka berharap akan diatur pengadaan Wi-Fi di kapal-kapal Taiwan.
Pada acara ini, ada 50 peserta yang ambil bagian. Mereka tidak hanya datang dari kawasan Selatan Taiwan, tetapi juga bagian utara dan Pulau Penghu. Di hari pertama, acara fokis pada perkenalan dari beragam organisasi yang ikut.
"Mereka mempresentasikan bagaimana organisasinya terbentuk, berapa banyak anggota, dan program apa yang sedang dijalankan. Menarik ketika kami ketahui ada beberapa organisasi yang memiliki anggota sampai ribuan," demikian ungkap Stella Maris.
Adapun di sesi kedua hari pertama, hadir perwakilan dari Taiwan Fisheries Agency yang menceritakan tentang sejumlah regulasi baru tentang pekerja migran di sektor laut.
Di hari kedua, acara fokus pada pembangunan kapasitas organisasi. Romo Yance, dari Stella Maris menjadi fasilitator dari sesi ini. Para peserta diundang untuk mengindikasikan sejumlah isu yang mereka hadapi, dan diminta menawarkan solusi pada isu tersbut dan menemukan cara untuk bekerja bersama dengan jaringan organisasi pekerja migran terutama yang bekerja di sektor laut.
Pada sesi kedua di hari itu, hadir juga sejumlah pembicara lain yakni Kim dari GLJ-ILRF dan Mina dari HRC. Dua organisatoris ini membagikan pengalaman mereka memberdayakan serikat pekerja. Mereka menggarisbawahi pentingnya berjejaring.





