Foto: Taiwan News
Indosuara β Menurut laporan Aliansi Anti-Penipuan Global (GASA), 40% warga Taiwan mengalami penipuan lebih dari 1 kali setiap minggu, dan hampir 35% warga pernah mengalami penipuan di media sosial. Dikutip dari Biro Imigrasi Taiwan, laporan yang dipaparkan dalam Anti-Scam Asia Summit di Taipei beberapa waktu lalu ini menyebut kalau data itu diambil dari lebih dari 20.000 responden dari 11 wilayah di Asia. Laporan ini menunjukkan bahwa lebih dari 60% warga Asia setidaknya sekali seminggu mengalami kejadian penipuan, dan di Taiwan, 40% warga mengalami penipuan lebih dari 1 kali setiap minggu.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa media yang paling sering dimanfaatkan oleh penipu di seluruh Asia adalah telepon dan pesan singkat, dengan lebih dari 75% responden di 8 wilayah pernah menerima panggilan atau pesan penipuan. Dengan penyebaran layanan digital seperti WhatsApp, Telegram, LINE, dan media sosial seperti Facebook dan Instagram, warga Taiwan menghadapi risiko penipuan di media sosial hampir mencapai 35%.
Selain itu, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi Deepfake juga mulai diterapkan dalam skenario penipuan, menggunakan teknologi kuat untuk membuat penipuan, video, dan suara yang terlalu nyata, membuat warga atau perusahaan lebih rentan terhadap jebakan penipuan.
Dalam konteks skenario penipuan, "Pencurian/penyalahgunaan data pribadi" adalah masalah penipuan paling serius di 5 wilayah Asia. Selanjutnya adalah "Penipuan berbasis belanja" dan "Penipuan berbasis investasi," masing-masing menempati peringkat pertama di 3 wilayah.
Berdasarkan isi laporan, di Taiwan, "Pencurian/penyalahgunaan data pribadi," "Penipuan pembayaran tagihan," "Penipuan berbasis belanja," "Penipuan berbasis investasi," dan "Penipuan berkedok pemerintah/bank" mempengaruhi berbagai sektor seperti lembaga keuangan, layanan e-commerce, pasar tenaga kerja, dan unit pemerintah.





