Pekerja migran yang mengikuti loka karya tari di Museum Ham Taiwan (Dok. Indosuara/Aubrey Fanani)
**Indosuara** – Sebanyak 30 pekerja migran Indonesia (PMI) ikuti lokakarya tari untuk mengekspresikan kebebasan di Museum HAM Taiwan di Taipei pada Minggu (20/11/2022).
Sebelum belajar mengolah tubuh mereka diajak untuk berkeliling Taman Peringatan Teror Putih untuk menilik sejarah kelam Taiwan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh lembaga swadaya yang fokus pada pekerja migran Indonesia Trans/Voice Project dan Museum HAM Taiwan.
Menurut pegiat dari Trans/Voice Project, Wu Ting Kuan, kegiatan tersebut mengajak para pekerja migran untuk mengenal sejarah Taiwan dan merefleksikannya kepada keadaan di Indonesia.
Berbagi pengalaman ini penting, karena baik Taiwan maupun negara-negara di Kawasan ASEAN, seperti Indonesia telah menjadi korban dari penjajahan dan juga perang dingin.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengajak para pekerja migran mau berpikir tentang kebebasan, tentang hak mereka sebagai manusia.
“Dengan memahami arti kebebasan, mereka akan sadar jika diri mereka tengah ditekan, dan mereka berhak melawan. Karena menjadi pekerja migran bukan berarti mereka memiliki derajat yang rendah. Mereka juga memiliki hak yang sama dengan manusia yang lain,” kata Wu Ting Kuan.
Tak hanya itu, Anastasia Melati, penari asal Indonesia yang kini mengajar di NTU, mengajak para migran mengenali tubuhnya dan para pekerja migran juga diajak untuk mengekspresikan kebebasan melalui gerak tubuh.
Melati tidak memfokuskan loka karya ini pada gerakan tari tertentu, tetapi dia lebih memfokuskan bagaimana para pekerja secara sadar dan mengikuti perasaannya untuk bergerak.
“Kegiatan ini kita bisa bebas berekspresi baik tari atau seni yang lain, mempunyai keyakinan masing-masing tanpa lebih benar daripada yang lain. Menghargai hak orang lain untuk hidup,” kata dia.
Setelah mereka melakukan lokakarya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tentang pengalaman mereka mengikuti tur sejarah dan lokakarya tersebut.
Menurut Wu Ting Kuan, tubuh adalah hal yang dimiliki manusia sejak lahir, dan tubuh adalah sesuatu yang jujur namun manusia sering kali tidak sadar atau tidak begitu mengenali tubuhnya sendiri.
“Tubuh selalu jujur, jadi daripada meminta teman-teman pekerja migran untuk menceritakan pengalaman mereka, lebih baik biarkan tubuh mereka berbicara dengan geraknya yang beragam,” kata dia.
Salah satu pekerja migran yang mengikuti kegiatan tersebut, Indri Ati merasa kegiatan tersebut sangat menarik karena dia bisa mengekspresikan kebebasan melalui tubuh.
“Saya suka kebebasan, ketika saya bergerak saya menjadi merasa bebas. Dengan mengerti arti kebebasan, kita harus menghargai orang-orang yang belum memiliki kebebasan. Seperti para pekerja migran yang tidak mendapatkan libur. Tidak semua orang punya libur yang seperti saya rasakan,” kata dia.
Sebelumnya Trans/Voice Project telah melakukan kegiatan yang serupa pada tahun lalu. Mereka mengelilingi beberapa situs sejarah yang berada di Taipei.





