Foto PMI tak berdokumen menggendong anaknya di panti Harmony Home. Foto hanya untuk ilustrasi semata. Foto milik CNA dan Indosuara.
Sebut saja Wulan (nama samaran) seorang ibu muda pekerja migran Indonesia (PMI) tak berdokumen (26) yang sedang hamil 7 bulan mengatakan pada Indosuara bahwa ia tak menginginkan anaknya. Ia berharap agar anaknya diadopsi oleh warga Taiwan. Namun, hal tersebut bertentangan dengan proses hukum di Taiwan. Menurut pendiri Harmony Home, anak dari warga negara asing tidak dapat diadopsi di Taiwan.
**PMI tak sadar hamil tak inginkan anaknya **
Wulan yang bekerja di perkebunan di wilayah Taiwan tengah ini mengaku jika ia tak sadar kalau dirinya hamil hingga usia kandungan 5 bulan. Ia pun menuturkan tak bisa mengaborsi janinnya karena sudah membesar.
Ia mendatangi klinik dokter kandungan setelah melakukan panggilan video dengan ibunya di Indonesia yang mengatakan jika wajah dan postur tubuhnya berubah, barulah ia memeriksakan diri dengan memakai alat uji kehamilan yang dibelinya di apotik terdekat.
Ia menuturkan jika dirinya sering tidak mendapatkan menstruasi secara teratur. Jadi saat tidak datang bulan, ia menganggap hal biasa. Akhirnya ia pun memberanikan diri ke dokter kandungan untuk memeriksakan janinnya. Pada saat itu, dokter mengatakan bahwa usia kandungannya sudah memasuki 5-6 bulan.
Ia pun menuturkan ingin mengaborsi kandungannya karena tak menginginkan janinnya. Namun semua sudah terlambat karena kandungannya sudah membesar. Saat ditanya, dengan siapakah ia melakukan hubungan badan, Wulan menceritakan jika ia pada waktu berbuat sedang dalam keadaan mabuk, dan teman lelakinya membawanya ke kamar.
Ia mengaku tak sadar saat melakukan hubungan badan. Teman lelaki Wulan adalah teman sekerjanya di perkebunan yang juga mempunyai wanita lain.
Saat Wulan meminta pertanggungjawabannya, tiba-tiba si lelaki tersebut memblokir nomornya. Kini Wulan bingung karena tidak memiliki uang untuk melahirkan dengan status pekerja migran tak berdokumen tanpa asuransi kesehatan. Selain itu, Wulan juga memiliki seorang anak yang tinggal bersamanya berusia 3 tahun, dari lelaki lain.
Kepada Indosuara Wulan mengatakan jika ia tak ingin merawat anak yang ada dalam kandungannya. Ia ingin memberikan anak tersebut kepada orang Taiwan. Ia pun tak ingin membawa anaknya pulang ke Indonesia saat ia menyerahkan diri nanti.
“Saya pernah menghubungi Harmony Home dan ingin dibantu melahirkan. Namun stafnya bilang kalau saya harus menyiapkan uang NT$ 60 ribu untuk melahirkan sesar dan harus MD (menyerahkan diri) ke pihak imigrasi kemudian akan diberi surat untuk dirujuk ke rumah sakit. Saya tidak bisa melahirkan normal. Anak yang pertama ini lahir sesar juga, tetapi saat itu bapaknya mau bertanggung jawab.” Ujar Wulan.
Wulan juga mengaku bahwa saat melahirkan anak yang pertama, ia sudah MD, tetapi karena bayinya ingin dibawa ke shelter, ia pun kabur lagi dengan membawa bayinya. Hingga saat ini, statusnya masih pekerja migran tak berdokumen selama 4 tahun lebih.
Ia pun berharap jika ada yang bisa membantunya untuk membiayai persalinannya karena ia tidak
memiliki uang sama sekali, dan ditambah harus membiayai anak pertamanya karena ayah dari anak pertamanya berhenti mengirimkan uang semenjak sang anak berusia 2 tahun.
“Saya butuh bantuan biaya melahirkan karena tidak punya uang. Dan untuk kali ini saya benar-benar akan menyerahkan diri kemudian kembali ke Indonesia. Namun saya tidak mau membawa anak yang ada dalam kandungan ini pulang,” ujar Wulan.
Menurut informasi dari Wulan, ia bekerja di perkebunan dengan gaji per hari sebesar NT$2700 –
NT$3500 selama 20 hingga 28 hari berturut-turut. Jumlah tersebut merupakan upah yang tinggi melebihi pekerja migran resmi pada umumnya.
**Tanggapan SPA : PMI harus bisa cegah kehamilan **
Saat diwawancarai oleh Indosuara, Lina, koordinator pelayanan dari Serve the People Association (SPA) mengatakan bahwa PMI yang bekerja di Taiwan harus dapat mencegah kehamilan jika tidak mau menanggung resikonya. Lina prihatin dengan kisah Wulan yang tidak mau untuk menerima anaknya.
“PMI harus paham, jika sudah berbuat seperti itu (berhubungan badan) harus tahu resikonya kalau hamil. Jika tidak ingin hamil ya harus memakai alat kontrasepsi. Sekarang sudah tahu hamil, tidak punya uang untuk melahirkan dan malah ingin memberikan anaknya kepada orang lain, itu tidak benar,” ujar Lina yang ditemui Indosuara di Taoyuan.
Saat ditanya INDOSUARA mengenai tanggapan untuk PMI yang ingin menyerahkan anaknya untuk diadopsi oleh orang Taiwan, Lina mengatakan bahwa itu tidak bisa.
“Taiwan tidak bisa menerima adopsi anak dari warga asing, meskipun anak tersebut lahir di Taiwan,” ujarnya.
Tanggapan Harmony Home : Taiwan tidak bisa mengadopsi anak dari warga asing
Sementara itu, Pendiri Harmony Home Nicole Yang (楊婕妤) melalui sambungan telepon mengatakan pada Indosuara bahwa warga negara asing tidak bisa menyerahkan anaknya untuk diadopsi kepada warga negara Taiwan, meskipun anak tersebut lahir di Taiwan.
“Anak tersebut bisa dititipkan di panti asuhan, tetapi hanya sementara waktu. Anak-anak tersebut akan dipulangkan bersama ibunya kembali ke negara asal. Di Taiwan tidak ada hukum yang mengatur adopsi dari anak-anak warga negara asing.” Tegas Nicole Yang.
(Oleh Miralux)





