Foto diambil dari : Focus Taiwan
Taipei, 21 Maret 2022 (CNA) Kantor perwakilan Indonesia di Taiwan menyelenggarakan pelajaran kerajinan tangan gratis pada hari Minggu untuk mengajarkan para pekerja migran Indonesia cara membuat lampu botol buatan sendiri sehingga mereka dapat memperoleh keterampilan kewirausahaan.
Pembelajaran tersebut diadakan di Indonesia Exhibition Center di Kantor Perekonomian dan Perdagangan Indonesia (KDEI) Taipei dan diikuti oleh hampir 40 peserta yang sebagian besar merupakan pengasuh migran asal Indonesia.
Semua peserta tersenyum dan dipenuhi dengan rasa puas ketika mereka mendekorasi lampu mereka yang terbuat dari botol kaca daur ulang, menggunakan cat warna-warni.
Dwi Tantri, seorang tokoh masyarakat Indonesia yang berbasis di Keelung, yang menjadi instruktur kelas tersebut, mengatakan kepada CNA bahwa acara tersebut bertujuan untuk mengajarkan para pekerja migran Indonesia keterampilan yang dapat mereka gunakan untuk memulai usaha kecil ketika mereka kembali ke Indonesia.
Menurut Tantri, lampu botol buatan tangan, yang indah dapat dijual dengan harga sekitar NT$500, sekitar 252.536 Rupiah di Indonesia.
NT$500 merupakan jumlah yang cukup besar bagi mereka karena gaji harian rata-rata pengasuh migran Indonesia di Taiwan hanya NT$567, kata Tantri.
Kemampuan untuk memulai usaha kecil di Indonesia setelah kembali dari Taiwan sangat berarti bagi para pekerja, mereka tidak perlu meninggalkan keluarga mereka lagi di masa depan untuk bekerja di negara lain, kata Tantri.
Setelah bekerja di Taiwan selama lebih dari satu dekade, Tantri mengatakan dia akan kembali ke Indonesia tahun ini dan berharap dapat menjalin kemitraan dengan mantan pekerja migran lainnya untuk memulai bisnis.
Para migran yang mengambil pelajaran mengungkapkan rasa terima kasih mereka kepada KDEI karena membantu mereka dalam mempelajari keterampilan baru.
Winarsih, pengasuh 47 tahun dari Taipei, mengatakan dia senang dengan pelajaran dan rencana untuk menjual kerajinan ketika dia kembali ke Indonesia, sementara rekan senegaranya Ratna Juwita Sari mengatakan dia menemukan pelajaran yang bermanfaat dan berharap untuk menghadiri sesi pelatihan lain di masa depan.
Sementara itu, Siti Fatimah, seorang pengasuh berusia 28 tahun dari New Taipei mengatakan, meski belum memiliki rencana konkrit untuk membuka usaha di masa depan, tapi ia selalu ingin belajar membuat lampu botol.
Noerman Adhiguna, analis dari departemen tenaga kerja KDEI, mengatakan kepada CNA bahwa mereka berencana untuk terus mengadakan berbagai pelajaran kerajinan tangan, kuliner, tata rias dan kecantikan, dan program pelatihan terkait lainnya secara gratis dengan tujuan untuk mengajarkan hingga 500 pekerja migran Indonesia tahun ini.
Namun, pelajaran akan diselenggarakan tergantung pada situasi pandemi COVID-19 saat itu, kata Noerman. KDEI telah menyelenggarakan banyak kegiatan pelatihan untuk pekerja migran Indonesia selama bertahun-tahun, tetapi pertemuan besar sering dibatasi karena Covid-19 kata Noerman.





