Foto: TVBS
Indosuara — Sebuah kapal nelayan bernama Donggang (東港) berlabuh di pelabuhan Mauritius (模里西斯港), dan terjadi insiden kekerasan di laut. Seorang kapten berkewarnegaraan Taiwan diduga telah dipukuli oleh awak kapal berkewarnegaraan Indonesia karena mencoba menghentikan awak kapal saat bermain, bahkan kapten tersebut dipaksa untuk berlutut meminta maaf. Video kejadian tersebut kemudian diunggah oleh awak kapal ke internet, memicu kemarahan publik. Departemen Perikanan juga mengeluarkan pernyataan untuk menyelidiki secara menyeluruh.
Seperti yang dilansir oleh TVBS, beberapa awak kapal berkewarnegaraan asing berkumpul di kapal tersebut, dan tampaknya ada ketegangan di antara kedua belah pihak. Ketika kapten mencoba untuk menengahi situasi, keadaan semakin memanas dan salah satu dari mereka bahkan secara langsung menyerang kapten tersebut.
“Hei, hei” ujar awak kapal di lokasi kejadian.
Setelah satu orang memulai tindakan fisik, bukannya menghentikan, para awak kapal yang lain justru turut serta dalam perkelahian tersebut. Situasi menjadi tidak terkendali dan kapten dipukuli hingga babak belur, bahkan diduga dipaksa untuk berlutut meminta maaf.
Pertarungan antara awak kapal dengan kapten: “Taiwan…. apakah kamu mengerti?”
Peristiwa kekerasan di laut ini melibatkan sebuah kapal nelayan Donggang, yang berlabuh di pelabuhan Mauritius pada tanggal 7. Kabarnya, karena kontraknya akan berakhir, beberapa awak kapal asal Indonesia tersebut minum dan bersenang-senang di ruang istirahat. Kapten asal Taiwan, Li (李), mencoba untuk menghentikan mereka. Namun, kapten tersebut malah diserang oleh awak kapal secara massal. Bahkan, video kejadian tersebut diunggah ke internet.
Foto: TVBS
Legislator Xu Fugui (徐富癸) mengatakan, "Kami juga menghubungi anggota keluarga sesegera mungkin dan meminta pihak terkait untuk memberikan bantuan maksimal.”
Melalui pernyataan dari seorang anggota parlemen, saat ini kapten yang menjadi korban masih dalam masa pemulihan lokal, dan diperkirakan akan kembali ke Taiwan minggu depan. Sebelum kepulangannya, keluarganya tampaknya sangat mengkhawatirkan keselamatan kapten. Departemen Perikanan juga menegaskan bahwa mereka tidak akan mentolerir kekerasan apa pun. Mereka telah mengirimkan delegasi untuk memberikan dukungan moral, serta menyelidiki insiden tersebut. Namun, situasi di laut sangat kompleks, bahkan kapten yang berpengalaman pun tidak memiliki solusi yang pasti.
Direktur Jenderal Asosiasi Perikanan Donggang, Zheng Yuchan (鄭鈺宸) mengatakan, "Departemen Perikanan telah menerapkan Konvensi CE88. Konvensi ini secara khusus mengatur gaji dan bahkan akomodasi, serta pengaturan Wi-Fi, bagi awak kapal di lepas pantai, dengan tujuan untuk secara bertahap memperbaiki hubungan yang tegang antara pekerja dan pengusaha."
Foto: TVBS
Selain itu, untuk mengatasi potensi ketegangan dalam hubungan antara pekerja dan pengusaha terkait dengan makanan, akomodasi, dan gaji awak kapal, Departemen Perikanan juga telah mengeluarkan peraturan yang relevan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi resiko operasi kapal nelayan di lepas pantai.









