2022-02-12

Kisah Haru Seorang Ibu, Migran Asal Indonesia Yang Mengingkari Janji Kepada Anaknya Untuk Pulang ke Tanah Air

Etty yang berusia 37 tahun telah bekerja di Taiwan selama sepuluh tahun. Awalnya, demi masa depan keluarganya, ia berangkat dari Indonesia, tinggal di Singapura dan Hong Kong untuk mencari uang, dan akhirnya kembali ke kampung halamannya untuk menikah dan melahirkan putranya bernama Andre. Setelah bercerai, demi masa depan Andre, ia berangkat lagi dan datang ke Taiwan untuk bekerja sebagai pengasuh, merawat nenek berusia 101 tahun. Selain pekerjaan rutinnya setiap hari, Etty mengambil cuti untuk menuntut ilmu guna meraih gelar master; ia suka menulis dan menggunakan waktu istirahatnya untuk merekam suasana hatinya, dan selama dua tahun ini diselimuti masa pandemi, ia menulis sebuah buku "Janji Dimasa Pandemi” dan memenangkan Seleksi Penghargaan Sastra Pekerja Imigran 2020 dan Penghargaan Juri Pemuda. Dalam artikel tersebut, Etty menulis sebuah cerita janji yang gagal ia penuhi selama pandemi - ia berjanji kepada putranya untuk kembali ke Indonesia pada tahun 2020 untuk merayakan Idul Fitri bersama.

Etty bercerita bahwa dulu keluarganya kurang mampu dan sering dianggap rendah oleh orang lain, bahkan kerabat yang lain pun beranggapan seperti itu. Dulu sebelum adiknya lahir, dia merupakan satu-satunya anak perempuan dalam keluarga dan melewati hari-hari bahagianya. Namun setelah adik perempuannya lahir, dia merasa sangat marah dan khawatir keluarganya tidak mampu membiayai adiknya tersebut. Etty menceritakan pernah pada suatu malam, lampu minyak dirumahnya mati, rumahnya gelap gulita dan ayahnya sedang bekerja di luar, ibunya memintanya pergi meminjam uang kepada bibinya untuk membeli minyak, namun karena bibinya takut keluarganya tidak mampu mengembalikan uang tersebut, bibinya pun mengatakan hal yang tidak pantas seperti "Pergi dan beri tahu ibumu, jangan terus punya anak jika tidak punya uang!"

Perkataan yang tidak mengenakan dari bibinya, membuat dirinya sangat marah dan dia juga merasa sangat marah kepada ibunya, dia pun sempat merasa tidak puas dengan hidupnya dan membenci Allah karena membiarkan dirinya terlahir didalam keluarga seperti saat itu. Walaupun malam itu ayahnya telah membawakan minyak lampu, rumahnya pun telah kembali terang, namun dirinya tetap tidak dapat melupakan hal menyakitkan tersebut, sehingga dirinya memberitahu pada dirinya sendiri bahwa dirinya harus mengubah hidupnya sendiri di masa depan. Setelah ia lulus SMA, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya, namun orang tuanya tidak memberikan ijin untuk dirinya melanjutkan pendidikannya. Akhirnya dirinya memutuskan untuk pergi kerja ke luar negeri, pada saat itu dirinya tidak memiliki harapan apapun, hanya berfikiran bekerja sebagai pembantu dan mendapatkan uang.

Pada awalnya Etty pergi ke Singapura dan Hongkong, dan sekarang dalam sekejap mata dirinya telah hampir 15 tahun berada di Taiwan dan telah memiliki anak bernama Andre. Dirinya berkata terkadang banyak orang bertanya padanya mengapa dirinya tidak kunjung pulang ke Indonesia? dan berkata bahwa ia telah melewatkan banyak waktu dengan anaknya. Namun dirinya tidak paham dengan pernyataan ini, Etty berkata dia telah melewatkan waktu emas pertumbuhan anaknya, dia tidak ingin kembali melewatkan masa depan anaknya. Dia ingin memastikan anaknya dapat memiliki pendidikan yang tinggi, bisa belajar dengan baik, dia tidak ingin anaknya seperti dirinya yang dulu.

Etty berkata bahwa meskipun dirinya tidak berada disamping Andre, namun dirinya berharap anaknya dapat menjadikan dirinya sebagai teman, tidak peduli masalah besar atau kecil ataupun urusan lainnya dirinya berharap Andre dapat bercerita kepadanya. Etty mengatakan setiap malam, disaat nenek yang ia rawat telah tertidur, ia akan menyempatkan waktu untuk telfon video ke Andre, bertanya tentang kejadian hari itu yang Andre lewati, Etty ingin Andre tau bahwa walaupun dirinya sedang bekerja diluar, namun dirinya akan selalu berada disamping Andre.

Saat ini Etty telah memasuki tahun ke 10 di Taiwan, Andre pun mulai tumbuh besar, teringat kembali pada tahun 2017 saat dirinya kembali ke Indonesia untuk merayakan Idul Fitri bersama Andre, saat itu Andre baru berusia 5 tahun. Saat ini Andre telah berusia 12 tahun, bersiap untuk memasuki SMP. Pada tahun 2020 saat kasus Covid-19 sedang meledak diseluruh dunia, Andre bertanya pada Etty, apakah dirinya akan kembali ke Indonesia pada tahun tersebut, untuk merayakan Idul fitri ? Etty hanya menjawab "Ya sayang. Jika Tuhan mengizinkan, ibu akan pulang. Berdoa untuk ibu, agar dapat menghasilkan uang dengan lancar, dan memiliki angpao ketika pulang. " - Dikutip dari "Janji Dimasa Pandemi" D4C16675-96F6-49FF-884E-31139FF45BE9.jpeg Photo : UDN News

Kasus Covid-19 Meledak

Etty mengatakan pertama kali ia datang ke Taiwan, Andre baru berusia 2 tahundan dia baru berusia 20an tahun. Etty berkata saat itu ia membawa sebuah kaos Upin Ipin milik Andre ke Taiwan yang ia simpan sampai saat ini dibawah bantal tidurnya, tetapi saat ini Andre juga sudah tidak dapat memakai kaos tersebut lagi. Dia mengatakan di rumah nenek yang ia rawat ada seorang anak laki-laki yang merupakan cucu dari nenek tersebut yang memiliki usia sama dengan Andre bernama Ken, ia sangat suka melihat Ken karena mengingatkannya kepada Andre, bahkan sering kali dirinya merasa ingin nangis setiap kali mengingat Andre.

Sebelum kembali ke Taiwan pada tahun 2017, Etty memberi tahu Andre bahwa dia akan mengatur jadwal kembali untuk pulang ke Indonesia pada Hari Raya Idul Fitri, dan kemudian akan menggandengnya untuk pergi ke sekolah. Tapi rencana hanyalah rencana, saat itu tiket pesawatnya di tunda karena wabah Covid-19 mulai meledak.

Wabah Covid-19 meledak pada tahun 2020, dan berita kasus yang dikonfirmasi terus-menerus disiarkan di TV dan media sosial. Etty juga mulai harus mengantri di apotek untuk membeli masker dan alkohol. Saat itu, Etty disuruh sama majikannya untuk tidak ke mana-mana dan harus tinggal di rumah sepanjang waktu. Nenek yang ia rawat juga terus mengomelinya untuk tidak berbicara dengan orang tidak dikenal, Etty juga sangat berhati-hati menjaga dirinya, dirinya juga khawatir membawa virus ke nenek yang ia rawat.

Etty juga sempat mengatakan saat-saat terburuknya yaitu pada Maret 2020. Saat itu, terdapat seorang perawat tidak berdokumen didiagnosis positif Covid-19, nenek yang ia rawat menyuruhnya pergi, saat itu, Taiwan sangat takut dengan pekerja migran. Saat itu Etty terduduk di Stasiun Utama Taipei namun dirinya diusir oleh pembersih ditempat tersebut, dan juga menyemprotkan alkohol ke kursi tempat ia duduk.

Pada saat itu, karena kekhawatirannya Etty sering kali merasa lebih baik pulang, tetapi kenyataannya masih menariknya kembali - dua adik lelakinya kehilangan pekerjaan karena pandemi, dan secara tiba-tiba dirinya menjadi satu-satunya tulang punggung bagi keluarga. Saat tersedihnya ketika ia mendapat kabar ayahnya dan Andre kecelakaan motor dan harus masuk rumah sakit, sebagai anak perempuan dan ibu, dia sudah merasa cukup gagal merawat mereka, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dari jauh, semoga mereka segera pulih .

Ditambah lagi rumah baru yang sedang ia bangun di Indonesia baru setengah jalan, bagaimana bisa ia pulang ketika semuanya membutuhkan uang, Menurutnya setidaknya dirinya harus tinggal di Taiwan untuk menghasilkan uang terlebih dulu. Hanya saja dirinya tidak tahu bagaimana memberi tahu Andre tentang keputusan untuk tidak pulang, Etty tidak bisa membayangkan betapa kecewanya Andre.

Etty berkata dulu dia selalu memiliki banyak permintaan untuk dirinya sendiri, namun sejak pandemi dirinya tidak memiliki permintaan apapun. Permintaannya hanyalah cukup keluarganya baik-baik saja.

Etty cukup optimis dan berkata pada diri sendiri bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuknya, jika dirinya mau bersabar. Sama seperti dulu, ketika dia ingin kuliah, namun Allah tidak mengizinkan, tetapi sekarang Etty bisa mendapatkan gelar sarjana dan magister dengan uangnya sendiri, bahkan dia juga bisa memberikan uang kepada bibinya yang pernah menganggap rendah dirinya dulu. Baginya saat ini yang terpenting adalah ayah dan ibunya sehat dan dapat merawat Andre dengan baik. 03823666-40D2-4A5C-A750-9A3CEE1FFFC6.jpeg Photo : UDN News

Janji Seorang Ibu

Kembali mengingat 10 tahun yang lalu, saat Etty bercerai dirinya memilih untuk meninggalkan orang tuanya dan menyewa sebuah rumah di tempat lain, merawat Andre seorang diri. Disebabkan oleh Etty yang tidak ingin orang lain tahu siapa dirinya, tidak ingin orang lain mengetahui masa lalunya dan tidak ingin mendengar ucapan yang tidak mengenakkan dari orang lain. Saat merasa sedih dan terpuruk Etty selalu menuliskan isi hatinya, baginya menulis adalah cara terbaik untuk membuat hatinya lebih tenang. Seperti sebuah buku yang ia tulis “ Janji Dimasa Pandemi” , selama dirinya menulis buku tersebut ia selalu menangis. Saat proses pengeditan buku, Etty mengatakan terdapat banyak pikiran, kesedihan dan kekhawatiran yang muncul, tetapi setelah dirinya menangis, suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.

Menurut Etty menulis adalah passionnya, mengubah hidupnya, bahkan membawa dirinya pergi ketempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, seperti memenangkan “Migrant Work Literature Prize” . Etty berharap di rumah barunya nanti dirinya memiliki ruang menulis sendiri dan bisa mencari nafkah dengan bakat menulisnya. Dan berharap dapat hidup bahagia bersama keluarga dan anaknya di rumah barunya nanti. Meskipun semua proses tidaklah mudah, namun ini merupakan caranya untuk berterimakasih pada dirinya sendiri.

Etty mengatakan untuk mencapai itu semua tentunya masih ada jalan yang harus ditempuh, itulah alasan dirinya harus tetap terus berusaha di Taiwan untuk sementara waktu ini. Etty mengatakan waktu 10 tahun ini dirinya terus menyaksikan dari layar hpnya, hari perhari orangtuanya tambah menua, anaknya pun semakin bertumbuh, dirinya telah melewatkan banyak hal penting.

Etty memberitahu dirinya sendiri bahwa sekalinya dirinya pulang nanti, dirinya akan pulang untuk selamanya.

Etty pun memberitahu Andre untuk memberinya waktu 2 tahun lagi agar bisa kembali bersama. Setelah janji tersebut, Etty tidak berani untuk berjanji tentang hal lainnya, apalagi dengan keadaan dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini 3C8D9748-6310-459D-B84E-A9AEABDC2409.jpeg Photo : UDN News